Pendiri Padepokan Wungkal Djati Kusuma Kawal Ritual Thudong, Sebagai Perwujudan Toleransi Antar Umat Beragama

oleh -146 Dilihat
oleh

Kab. Cirebon, Kontroversinews – Tradisi thudong merupakan ritual keagamaan bagi umat Buddha yang dilakukan dengan berjalan kaki atau dianggap juga sebagai ritual perjalanan spiritual, seperti yang dilakukan oleh para bhante (biksu) yang berjalan kaki dari Bangkok Thailand menuju Candi Borobudur baru-baru ini. tujuan para bhante melakukan thudong atau berjalan kaki dari Thailand hingga Candi Borobudur adalah salah satu bentuk perjalanan religi, dalam menjalankan tradisi thudong itu mereka memakai jubah biksu, sepasang sandal, dan kaus kaki. rombongan banthe atau biksu Budha itu menyusuri jalur utama pantura Indramayu dan Cirebon arah Kertasemaya – Tegalgubug – Palimanan – Kedawung – Kota Cirebon setelah sebelumnya tiba di Indonesia dan disambut oleh Mentri Agama Yaqut Qoulil Qoumas. sepanjang perjalanan spiritual atau yang disebut dengan ritual Thudong tersebut, rombongan banthe atau biksu Budha tadi dikawal oleh sejumlah ormas Islam seperti Banser, Laskar Agung Macan Ali Cirebon, Pemuda Pancasila, dan lain-lain.

Nampak hadir pula dalam rombongan pengawalan para biksu Buddha yang melakukan Ritual Thudong tersebut, sebuah padepokan keagamaan bernama Padepokan Wungkal Djati Kusuma yang dipimpin langsung oleh pendiri sekaligus guru besarnya yakni Raden Bagus Wangsa Taruna atau yang akrab dipanggil dengan sebutan Mamo Ilik. dirinya dan pengikutnya, pada Rabu 17 Mei 2023 telah melakukan pengawalan dari Vihara Jatibarang Indramayu menuju Mako Brimob Winong Kecamatan Susukan Kabupaten Cirebon bersama Laskar Agung Macan Ali dan akan dilanjutkan ke esokkan harinya. seusai melakukan pengawalan pada hari pertamanya para biksu Buddha yang tengah melakukan ritual Thudong dari rencananya berada di Cirebon selama 3 hari, Mamo Ilik pendiri Padepokan Wungkal Djati Kusuma mengatakan kepada media ini. bahwa apa yang dilakukan dirinya beserta pengikutnya, tak lain dan tak bukan hanya sekedar untuk menghormati sekaligus menghargai pemeluk agama lain. “hari ini kita wujudkan, bahwa toleransi antar umat beragama masih menjadi kewajiban kami sebagai orang cirebon. dalam hal ini, padepokan wungkal djati kusuma akan selalu hadir disetiap momentum yang berbau keagamaan. salahsatunya mengawal puluhan banthe atau biksu buddha yang sedang melakukan ritual thudong seperti sekarang ini, kami akan kawal selama mereka di cirebon dan sampai menuju jawa tengah nanti” pungkasnya.

Rencananya dari Cirebon, rombongan Banthe yang berjalan kaki konvoi itu akan melewati jalur pantura menuju Candi Borobudur, Magelang. rombongan Banthe itu dijadwalkan akan sampai di Candi Borobudur, situs candi terbesar agama Budha di dunia pada tanggal 1 Juni 2023. dan mereka akan membaur dengan ribuan Biksu Budha lainnya, termasuk para umat Budha yang akan merayakan puncak hari Trisuci Waisak 2567 pada tanggal 4 Juni 2023. puncak perayaan Trisuci Waisak tahun ini akan dipusatkan di Candi Borobudur, akan ada ribuan Banthe atau Biksu Budha dari seluruh dunia berkumpul di Candi peninggalan Kerajaan Budha dari Wangsa Syailendra pada abad ke 8 Masehi tersebut. (Kusyadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *