Mengenal seni ogoh-ogoh, tradisi sakral jelang Hari Nyepi

- Pewarta

Kamis, 27 Maret 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta (Kontroversinesw) – Menjelang perayaan Hari Nyepi, masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di Bali, tentu sudah akrab dengan tradisi yang satu ini. Salah satu bagian yang paling khas dari perayaan tersebut adalah Ogoh-ogoh, karya seni rupa yang berasal dari unsur keagamaan Hindu, mitologi, serta kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.

Sebagai bagian dari warisan budaya turun-temurun, pertunjukan seni Ogoh-ogoh telah menjadi daya tarik tersendiri, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan. Namun, lebih dari sekadar hiburan, Ogoh-ogoh memiliki makna mendalam yang mencakup nilai filosofis, sosial, dan spiritual.

Pertunjukan ini juga menjadi penanda pergantian tahun dalam kalender Bali, terutama dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi. Oleh karena itu, Ogoh-ogoh dan Nyepi merupakan dua tradisi yang tidak bisa dipisahkan karena saling berkaitan.

Lalu, apa sebenarnya Ogoh-ogoh dan apa maknanya? Berikut penjelasannya, yang telah dilansir dari berbagai sumber.

Pengertian Ogoh-ogoh

Ogoh-ogoh adalah karya seni khas Bali yang mencerminkan sosok Bhuta Kala. Secara bahasa, istilah “Ogoh-ogoh” berasal dari kata “ogah” dalam bahasa Bali, yang berarti “goyang.”

Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala melambangkan kekuatan besar yang berkaitan dengan alam semesta (Bhu) dan waktu yang tidak terukur serta tidak dapat dihindari (Kala).

Seni Ogoh-ogoh mulai berkembang pada era 1980-an dengan bentuk yang masih sederhana dan belum begitu dikenal luas. Namun, tradisi ini sebenarnya telah ada sejak zaman dahulu.

Patung-patung yang dibuat dalam tradisi ini umumnya menggambarkan makhluk mitologis, tokoh pewayangan, kisah dalam sastra Hindu, hingga perwujudan dewa-dewi Hindu. Ogoh-ogoh biasanya diarak di jalanan menjelang Hari Raya Nyepi sebagai bagian dari ritual penyucian.

Pembuatan Ogoh-ogoh biasanya dilakukan oleh komunitas adat setempat yang disebut banjar, yang memiliki peran serupa dengan Rukun Warga dalam struktur masyarakat Bali. Dalam kepercayaan Hindu, Ogoh-ogoh sering kali menggambarkan sifat-sifat negatif manusia.

Oleh karena itu, dalam prosesi perayaannya, Ogoh-ogoh dipercaya dapat menetralisir energi negatif di lingkungan sekitar serta mendamaikan makhluk-makhluk dari alam bawah sebelum pergantian Tahun Saka atau perayaan Hari Raya Nyepi.

Makna pertunjukkan seni Ogoh-ogoh

Ogoh-ogoh bukan sekadar patung raksasa yang diarak mengelilingi desa sebagai bagian dari pertunjukan seni. Di balik kemegahannya, Ogoh-ogoh menyimpan makna mendalam yang berkaitan erat dengan ajaran Hindu. Berikut adalah tiga makna yang terkandung dalam pertunjukan seni Ogoh-ogoh:

1. Bhuta Kala

Ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala, yakni kekuatan negatif yang dapat mengganggu keseimbangan alam semesta serta pikiran manusia. Bhuta Kala sering dikaitkan dengan waktu yang tidak terukur dan tidak dapat dihindari.

Dalam wujudnya, Bhuta Kala mewakili berbagai sifat negatif seperti kemarahan, keserakahan, kebodohan, serta energi destruktif lainnya yang dapat muncul dalam diri manusia.

2. Pengendalian diri

Ogoh-ogoh juga memiliki makna sebagai pengingat bagi manusia untuk selalu mewaspadai kekuatan negatif yang ada di sekitar mereka, terutama yang berasal dari dalam diri sendiri. Tradisi ini menjadi bentuk refleksi agar setiap individu dapat merenungkan tindakan mereka dan berusaha mengendalikan hawa nafsu serta keinginan yang tidak baik.

3. Kritik sosial dan satire

Dalam beberapa tahun terakhir, Ogoh-ogoh juga digunakan sebagai media untuk menyampaikan kritik sosial serta satire terhadap berbagai isu yang berkembang di masyarakat.

Patung-patung yang dibuat sering kali menggambarkan permasalahan sosial yang sedang menjadi perhatian, seperti korupsi dan ketidakadilan. Melalui karya seni ini, masyarakat Bali menyuarakan aspirasi serta keprihatinan mereka terhadap kondisi sosial yang terjadi.

4. Menjaga keseimbangan alam dan kehidupan

Tradisi Ogoh-Ogoh mencerminkan konsep Tri Hita Karana, yaitu filosofi keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Melalui prosesi ini, masyarakat berusaha menetralisir energi negatif di sekitar mereka agar kehidupan tetap harmonis dan selaras dengan alam semesta.

Secara keseluruhan, pertunjukan seni Ogoh-Ogoh bukan hanya bagian dari perayaan, tetapi juga memiliki makna mendalam sebagai pengingat bagi manusia untuk selalu menjaga keseimbangan dalam kehidupan, mengendalikan diri, serta tetap peka terhadap keadaan sosial di sekitarnya. ***ANT

Berita Terkait

Seni Memaafkan untuk Menolong Diri Sendiri
Wisata CIwalini Paling Aman dan Nyaman Buat Wisatawan
eMTe Highland Resort, Pilihan Tempat Liburan yang Menyenangkan
Dusun Stroberi Walini, Tempat yang Pas untuk mengisi Liburan
Jelang Operasi Mantap Brata, Polres Brebes Gelar Apel Ranmor dan Kelengkapan Dalmas
Fasilitasnya Lengkap, Barusen Hills Manjakan Para Wisatawan
Objek Wisata Air Terjun Efrata Ramai Dikunjungi Pasca Imlek
Daihatsu Taft Ini Siap Dipakai Buat Bajak Sawah, Petani Anti Kepanasan

Berita Terkait

Minggu, 30 Maret 2025 - 10:35

Seni Memaafkan untuk Menolong Diri Sendiri

Kamis, 27 Maret 2025 - 10:37

Mengenal seni ogoh-ogoh, tradisi sakral jelang Hari Nyepi

Rabu, 22 Januari 2025 - 19:36

Wisata CIwalini Paling Aman dan Nyaman Buat Wisatawan

Senin, 9 September 2024 - 15:08

eMTe Highland Resort, Pilihan Tempat Liburan yang Menyenangkan

Minggu, 8 September 2024 - 06:18

Dusun Stroberi Walini, Tempat yang Pas untuk mengisi Liburan

Berita Terbaru

INTERNASIONAL

Trump Tegaskan Kembali Niat untuk “Mengakuisisi Greenland”

Minggu, 30 Mar 2025 - 10:38