RANCABALI | Kontroversinews – Puluhan pedagang masker di objek wisata Kawah Putih di Bandung Selatan, Kabupaten Bandung mengeluhkan larangan tidak boleh berjualan sejak satu pekan terakhir dari pihak pengelola. Mereka mengaku mendapatkan keluhan dari pengunjung namun tidak pernah dijelaskan secara detail.
Salah seorang pedagang, Ridwan (35) mengungkapkan sebanyak 40 orang pedagang yang menjual masker sudah berjualan sejak 10 tahun terakhir. Namun, mereka kaget ketika tidak diperbolehkan berjualan masker sejak Kamis (18/7) kemarin.
“Kami diperlihatkan surat edaran (tidak boleh berjualan) keputusan direksi Perhutani. Kalau ada tudingan pemaksaan membeli, kami tidak pernah melakukan itu,” ujarnya, Rabu (24/7).
Akibat kebijakan tersebut, ia mengungkapkan saat ini tidak berjualan. Saat hendak menanyakan kepada pengelola, diketahui jika kebijakan tersebut datang dari direksi Perhutani di pusat. “Kalau ada kesalahan, keinginannya dibicarakan dulu sama pedagang,” ungkapnya.
Sedangkan, Ketua Divisi Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Alamendah, Dede mengatakan terkait keluhan harga masker yang mahal, menurutnya, produk lain pun di objek wisata tersebut ada yang mahal.

“Coba bandingkan dengan harga jual mi instan yang biasa dijual Rp 3500, dijualnya Rp 10 ribu, itu mahal kok,” katanya. Dirinya pun mengaku akan mencoba mempertanyakan hal tersebut kepada pengelola.
Sementara menurut Duty Manager Kawah Putih Hendrik Afialawan didampingi Supervisor Pemasaran dan Humas Deddy Heryana saat di konfirmasi Kontroversinews.com di ruang kerjanya , Rabu (24/7), mengungkapkan keputusan tidak boleh berjualan masker datang dari direksi Perhutani pusat. Kebijakan tersebut muncul karena adanya keluhan dari pengunjung yang merasa keberatan dengan harga masker yang mahal.
“Masalah harga itu komplain sudah lama. Ada yang jual Rp 5000 sampai Rp 8000 permasker. Kita udah ngambil sikap dengan cara mengatur harga sama seperti satu masker Rp 2500. Dilapangan baru berjalan satu minggu udah naik lagi,” katanya.
Menurutnya, para pengunjung sudah banyak yang tahu harga masker. Sehingga ketika mereka mengetahui harga di Kawah Putih lebih mahal dikeluhkan. Kondisi tersebut menurutnya berdampak jelek bagi objek wisata.
“Kita sudah beberapakali mengajak komunikasi dengan pedagang dan mediasi. Tapi kali ini surat langsung dari Perhutani,” katanya. Ia mengatakan agar para pedagang tetap bisa mencari nafkah maka pihaknya mengarahkan mereka berusaha yang lain.
“Kita sudah siapkan dua warung yang bisa digunakan pedagang untuk berjualan. Selain itu, ada rencana penyewaan pakaian ke depan dan akan melibatkan pedagang,” katanya.
Deddy mengatakan fasilitas masker saat ini akan diberikan cuma-cuma kepada pengunjung dari pengelola. Katanya, masker bisa dipakai untuk memberikan kenyamanan kepada pengunjung dan tidak ada kaitan dengan dampak belerang terhadap kesehatan. ( Lily Setiadarma)








