Kabupaten Bandung Gelar Festival Adaptasi Perubahan Iklim, Libatkan Anak sebagai Solusi

- Pewarta

Kamis, 5 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KAB. BANDUNG, Kontroversinews | Fenomena perubahan iklim yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem telah menimbulkan dampak serius bagi masyarakat Jawa Barat, khususnya Kabupaten Bandung. Untuk memperkuat ketahanan masyarakat—terutama anak-anak—terhadap dampak tersebut, berbagai upaya kolaboratif dan berbasis komunitas terus digalakkan.

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Program Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat (Community-Based Climate Change Adaptation/CBCCA) yang diimplementasikan oleh Save the Children Indonesia bekerja sama dengan LPBI-NU Jawa Barat dan Yayasan IDEP Selaras Alam sejak Maret 2023.

Sebagai puncak kegiatan, Festival Aksi Adaptasi Perubahan Iklim bertajuk “Ngajaga Alam Ngabentang Kahirupan (Menjaga Alam untuk Melestarikan Kehidupan)” digelar pada 5 Februari 2026 di Gedung Budaya Sabilulungan, Soreang. Festival ini sekaligus menandai berakhirnya pelaksanaan program serta menjadi ruang berbagi pembelajaran dan refleksi bersama seluruh pemangku kepentingan yang terlibat.

Acara tersebut dihadiri oleh berbagai lembaga dan instansi, antara lain Kementerian Lingkungan Hidup, BMKG, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung, Bapperida Kabupaten Bandung, BPBD Kabupaten Bandung dan Provinsi Jawa Barat, DPMD Kabupaten Bandung beserta TAP3MD, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, serta Dinas PUTR Kabupaten Bandung.

Selain itu, hadir pula perwakilan dari 10 sekolah di tiga kecamatan, yakni tiga SD dari Kecamatan Ibun, empat sekolah (dua SD dan dua SMP) dari Kecamatan Baleendah, serta tiga sekolah (satu SD dan dua SMP) dari Kecamatan Rancaekek.

Chief Operating Officer Save the Children Indonesia, Agni Kristia Pratama, menegaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak krisis iklim.

“Melalui festival ini, suara, kepentingan, dan peran anak diperkuat agar menjadi bagian penting dalam perencanaan pembangunan dan kebijakan daerah. Festival ini juga menjadi momentum refleksi sekaligus peneguhan komitmen agar praktik-praktik baik yang telah berjalan dapat diperluas dan berkelanjutan,” ujarnya.

Festival ini menjadi wadah penyebarluasan pembelajaran dan praktik baik, sekaligus menyerukan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan bencana. Selama pelaksanaannya, Program CBCCA telah menjangkau delapan desa dan dua kelurahan dengan fokus pada penguatan kapasitas adaptasi iklim yang inklusif dan ramah anak.

Berbagai kegiatan yang ditampilkan meliputi pameran hasil program, cerita sukses komunitas dan sekolah, pemanfaatan sistem peringatan dini, diskusi kebijakan publik, hingga Ruang Suara Anak yang memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menyampaikan pandangan serta rekomendasi terkait krisis iklim secara langsung kepada para pemangku kebijakan.

Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani, menyampaikan bahwa perubahan iklim kini menjadi tantangan pembangunan yang nyata dan semakin dirasakan di tingkat lokal.
“Penguatan adaptasi perubahan iklim harus dilakukan secara sistematis, inklusif, dan berbasis kebutuhan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak. Program CBCCA di Kabupaten Bandung menunjukkan praktik baik bagaimana kebijakan nasional dapat diimplementasikan secara konkret melalui kolaborasi pemerintah daerah, masyarakat, sekolah, dan organisasi masyarakat sipil,” jelasnya.

Festival ini juga menjadi bentuk apresiasi bagi Pemerintah Kabupaten Bandung, pemerintah desa dan kelurahan, serta sekolah dan komunitas yang telah berkolaborasi selama pelaksanaan program. Kegiatan tersebut diharapkan mampu mendorong integrasi aksi adaptasi perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan daerah dan desa, sejalan dengan kebijakan nasional penguatan ketahanan iklim dan pengurangan risiko bencana.

Dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Kepala Bapperida Kabupaten Bandung, H. Marlan S.Ip., M.Si., Bupati Bandung Dr. H. M. Dadang Supriatna, S.Ip., M.Si. menyampaikan bahwa perubahan iklim berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan.
“Meningkatnya risiko banjir, longsor, dan cuaca ekstrem menuntut kita tidak hanya responsif saat bencana terjadi, tetapi juga memperkuat upaya adaptasi dan pencegahan sejak dini. Program CBCCA membuktikan bahwa ketahanan iklim dapat dibangun dari bawah, melalui masyarakat, dengan melibatkan anak-anak sebagai bagian penting dari solusi,” tegasnya. (TZ)

Berita Terkait

Isu Dugaan Gratifikasi Kasuistik PDAM Tirtakamuning, “Marwah Pemda Kuningan Ternodai”
KWRI Dikecewakan, Kemenag Kabupaten Tangerang Absen Total Saat Jadwal Audiensi
Wali Kota Ajak SMSI Bangun Narasi Edukatif untuk Kecerdasan Masyarakat
Wakil Wali Kota dan Wamenperin Bahas Strategi Proteksi Industri Lokal
Peredaran Obat Golongan G Kembali Marak, Ada Apa dengan APH di Cianjur?
Rapat Pleno Karang Taruna Kabupaten Bandung 2026 Digelar, Fokus Konsolidasi dan Penguatan Program Kerja
Pesan Ucapan Terimakasih dan Doa Pelajar SMAN Selacau Kepada Pekerja SPPG Selacau
Penanaman Jagung Serentak 750 Hektare Polda Jabar, Polsek Sindangkerta di Desa Neglasari

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 14:11

Kabupaten Bandung Gelar Festival Adaptasi Perubahan Iklim, Libatkan Anak sebagai Solusi

Kamis, 5 Februari 2026 - 07:28

Isu Dugaan Gratifikasi Kasuistik PDAM Tirtakamuning, “Marwah Pemda Kuningan Ternodai”

Rabu, 4 Februari 2026 - 16:49

KWRI Dikecewakan, Kemenag Kabupaten Tangerang Absen Total Saat Jadwal Audiensi

Rabu, 4 Februari 2026 - 15:36

Wali Kota Ajak SMSI Bangun Narasi Edukatif untuk Kecerdasan Masyarakat

Rabu, 4 Februari 2026 - 15:34

Peredaran Obat Golongan G Kembali Marak, Ada Apa dengan APH di Cianjur?

Berita Terbaru