Kab. Bandung, Kontroversinews | Yayasan Pendidikan Angkatan Muda Siliwangi (AMS) yang mengelola SMP AMS Pamengpeuk didirikan pada 15 Oktober 2019 berdasarkan Akta Pendirian Nomor 45 dan telah disahkan sebagai badan hukum oleh Kementerian Hukum dan HAM pada 23 Oktober 2019. Nama Angkatan Muda Siliwangi (AMS) sendiri merupakan organisasi massa yang telah berdiri sejak tahun 1966, namun yayasan pendidikannya baru terdaftar kemudian untuk mengelola satuan pendidikan.
Ironisnya, sejak berdiri hingga saat ini Yayasan Pendidikan Angkatan Muda Siliwangi (AMS) dinilai masih minim bantuan dan perhatian dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung. Hal ini berbanding terbalik dengan lembaga pendidikan nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Bandung yang dinilai mendapatkan bantuan cukup besar.
Sekretaris Yayasan Pendidikan AMS, Yanto Maryanto, S.E., menyampaikan harapannya agar pemerintah dapat memberikan bantuan, khususnya untuk sarana dan prasarana pendidikan. “Kami sangat berharap adanya uluran bantuan dari pemerintah, terutama untuk perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. Saat ini banyak ruang kelas yang atapnya bocor dan temboknya sudah rapuh. Apalagi pada musim hujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi, ruang kelas sering tergenang air sehingga tidak dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala Sekolah SMP AMS Pamengpeuk, Heni Hidayanti, S.Pd., bersama para guru yang mengajar secara sukarela. Ia berharap para pemangku kebijakan, baik di tingkat pusat maupun daerah, dapat memberikan perhatian kepada sekolah yang dipimpinnya.
“Setiap musim hujan, ruang kelas sering tergenang air sehingga sangat mengganggu proses belajar mengajar para siswa. Oleh karena itu, besar harapan kami agar pemerintah pusat maupun daerah dapat tergerak hatinya untuk segera membantu SMP Angkatan Muda Siliwangi,” tutur Heni Hidayanti saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (8/12/2025).
Sementara itu, aktivis pemerhati pendidikan, Edi (58), turut menyoroti kondisi tersebut. Menurutnya, sangat disayangkan apabila lembaga pendidikan nonformal seperti PKBM bisa mendapatkan bantuan dalam jumlah besar, sementara sekolah formal yang jelas membutuhkan justru kurang mendapat perhatian. “Masa iya sekolah nonformal bisa mendapatkan bantuan yang sangat fantastis, sementara sekolah seperti ini tidak terpelihara,” ungkapnya. ** Pewarta: Hedi








