Teh Nia : Makna Hari Pahlawan Bagi Generasi Penerus Bangsa ‘Jangan Sekali-Sekali Tinggalkan Jas Merah ‘

oleh -4 views

PANGALENGAN || KONTROVERSINEWS – Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah atau Jas Merah menjadi istilah yang pertama kali diingat Kurnia Agustina dalam memaknai Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November.

Teh Nia, sapaan akrabnya juga mengingatkan agar generasi muda di Kabupaten Bandung mengimplementasikan istilah Jas Merah tersebut yang pertama kali digaungkan Sang Proklamator, Bung Karno dalam pidato kepresidenan terakhirnya pada 17 Agustus 1966. 

“Para pahlawan terdahulu sudah meletakkan landasan kemerdekaan yang kokoh. Tinggal kita sebagai penerusnya yang harus mempertahankan dan meningkatkan apa yang sudah diraih mereka (pahlawan),” ujar Teh Nia di Pangalengan, Selasa 10 November 2020. 

Calon bupati Bandung nomor urut 1 tersebut bahkan meminta agar generasi penerus bangsa mengingat kembali perjuangan para pahlawan yang berbalut kucuran keringat, darah, hingga air mata. “Makanya harus paham betul dengan istilah Jas Merah,” ucap dia. 

Dengan mengingat istilah Jas Merah, maka ia berharap generasi penerus bangsa tidak merasa besar, tidak merasa pintar, ataupun merasa kuat dalam berbagai hal. Sebab, seluruh masyarakat Indonesia bisa menikmati kemerdekaan karena ada proses perjuangan berdarah-darah yang dilakukan oleh para pahlawan pendahulu. 

“Tidak mungkin ada senja kalau tidak diawali dengan matahari pagi. Jadi jangan lupa juga sejarah di Kabupaten Bandung juga. Kabupaten Bandung bisa seperti ini karena perjuangan para bupati terdahulu. Ada Bapak Memed Ardiwilaga, ada Bapak Masturi, ada Bapak Lily Sumantri, ada Bapak Cherman, ada Bapak Obar, juga Kang DN (Dadang Naser),” kata dia. 

Sementara itu, pemaknaan Hari Pahlawan oleh calon wakil bupati Bandung Usman Sayogi sedikit berbeda. Ia menyebut jika kemerdekaan Indonesia bisa direbut dari penjajah karena ada campur tangan pahlawan perempuan.

“Kita punya pahlawan kemerdekaan, pejuang yang tanpa pamrih, dengan bambu runcingnya. Dewi Sartika dan Cut Nyak Dien, contohnya. Semua berperan, laki-laki dan perempuan. Beliau-beliau itu mampu membawa Indonesia merdeka,” tutur Usman di Soreang,.

Tak hanya mereka-mereka yang berjuang pada saat jaman penjajahan, kata Usman, tokoh-tokoh yang berjuang membangun daerah juga pahlawan, misalnya Bupati Bandung terdahulu.

“Kabupaten Bandung yang kita cintai ini, tidak akan mungkin begini tanpa adanya peran serta tokoh pahlawan. Sejak di Dalam Kaum, peralihan ke Baleendah sampai ke Soreang ini. Pembangunan tidak akan begini adanya tanpa peran serta dari Bupati Bandung yang terdahulu,” kata dia.

Usman berpesan kepada masyarakat untuk bisa menjadi pahlawan diri sendiri dan untuk orang lain. Dirinya mengajak semua warga untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, dan menjadi warga negara yang baik.( Lily Setiadarma )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *