PT Wika Bantah Nunggak Rp 19 Miliar

oleh -433 Dilihat
oleh

Kab Bandung | Kontroversinews.- Managemen PT. Wijaya Karya (Wika) menyayangkan sikap PT Citra Bangun Selaras ( CBS) yang mengeluarkan pernyataan jika perusahan BUMN itu tak membayar pekerjaan pengurukan Jalan Tol Soreang Pasirkoja (Soroja) sebesar Rp 19 miliar. Karena sebenarnya sisa pembayaran yang belum dibayar oleh PT Wika kepada PT CBS hanya beberapa pekerjaan diakhir, dengan nominal tak mencapai Rp 19 miliar.

Legal Manager PT. Wika Puji Haryadi mengatakan, selama dua tahun pelaksanaan kontrak kerja antara PT Wika dengan PT. CBS tidak adan masalah. Namun memang diakhir ada beberapa pekerjaan yang pembayarannya belum dapat diselesaikan oleh pihaknya. Hal ini terjadi karena belum adanya kesepakatan soal metode penghitungan volume pekerjaan, sehingga nominal uang yang harus dibayarkan oleh PT Wika kepada PT CBS belum bisa dilakukan.

“Jadi sebenarnya bukan kami tidak bayar sebesar Rp 19 miliar. Tapi ada beberapa pekerjaan di akhir yang belum kami bayarkan, karena perhitungannya masih belum cocok antara kami dan PT. CBS. Soal pernyataan dari PT. CBS tentunya kami sangat disayangkan, sebagai BUMN skala nasional tidak mungkin kami melakukan hal yang gegabah, apalagi terhadap sesama perusahaan milik pemerintah.  Pernyataan yang mendiskreditkan dalam sebuah kemitraan bisnis itu sangat disayangkan,”kata Puji usai melakukan perundingan dengan PT CBS yang dimediasi oleh DPRD Kabupaten Bandung di Soreang, Rabu (25/7/18).

Sebenarnya, kata Puji, jika pihak PT CBS merasa ada kekeliruan tidak perlu melakukan aksi unjuk rasa dan melakukan tindakan yang tidak perlu. Sebagai negara hukum, tentunya bisa menempuh jalur hukum melalui pengadilan arbitrase.

“Padahal bisa menempuh cara musyawarah dan kalau tidak dicapai kesepakatan bisa diselesaikan dipengadilan arbitrase saja,”ujarnya.

Menurut Puji, setelah dilakukan perundingan kembali dengan dimediasi oleh DPRD dengan pihak PT CBS, hasilnya ada kesepakatan. Bahwa kedua belah pihak akan mensingkronkan soal perhitungan. Penghitungan tidak menutup kemungkinan melibatkan pihak ketiga yang ditunjuk atas kesepakatan bersama.

“Sekarang sudah mengerucut pada satu hal, dengan perundingan intensif kedua belah pihak juga sepakag untuk cooling down dulu. Apalagi ini sama sama perusahaan milik pemerintah kami BUMN itu BUMD harus saling menguntungkan,”katanya.

Diberitakan sebelumnya, PT Citra Bangun Selaras (CBS), salah satu subkontraktor pembangunan Jalan Tol Soreang-Pasirkoja (Soroja) yang juga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Bandung menuntut BUMN, PT Wijaya Karya (Wika) untuk melunasi pembayaran pekerjaan mereka sebesar Rp 19 miliar yang masih ditunggak.

Direktur PT CBS Ery Rusmana menuntut PT Wika untuk melunasi pembayaran pekerjaan yang belum terselesaikan sebesar Rp 19 miliar. Sebelumnya, pihaknya sudah melakukan beberapa kali mediasi dengan PT Wika, terakhir Rabu minggu lalu. Namun tidak terdapat jalan keluar.

“Kurang lebih Rp 19 miliar yang belum dibayarkan PT Wika. Sampai saat ini kami belum menikmati hasil kerja kami. CBS tidak berdiri sendiri tapi ada beberapa vendor yang ikut serta,” kata Ery kepada wartawan seusai memasang spanduk di depan gerbang Tol Soroja, Selasa (10/7/18).

Ery mengatakan, dampak belum dibayarkannya dana oleh PT Wika membuat sejumlah subkontraktor di bawah PT CBS mengeluh bahkan ada yang kolaps. Beberapa perusahaan diantaranya sama sekali tidak berjalan.

“Total 13 perusahaan dibawah PT CBS dan 8 diantaranya pembayarannya belum terselesaikan,” katanya. Menurutnya, pekerjaan vendor yaitu timbunan padat dijanjikan PT Wika akan dibayar. Namun hingga saat ini belum dibayarkan.

Ery menjelaskan, pihak PT Wika beralasan belum membayar karena volume yang diajukan oleh PT CBS tidak sesuai as build drawing dan tidak sesuai hitungan mereka. Namun, versi PT Wika sendiri hitungannya belum ada.

“Saya ingin mengetuk hati nurani perusahaan besar BUMN. Kami ini BUMD yang membawahi  pelaku usaha kecil jangan sampai kami mati,” ujarnya.

Ery menegaskan jika tuntutan mereka tidak digubris. Maka, pihaknya akan menggelar aksi demo pada Kamis (12/7) mendatang dengan mengerahkan 300 orang massa aksi. Tidak hanya itu pihaknya akan menempuh jalur hukum mengadukan ke pengadilan. (Lily Setiadarma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *