Batu Beranak di Danau Sentani Diyakini Jelmaan Nenek Moyang Suku Tutari

- Pewarta

Rabu, 7 April 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Baty Beranak di Danau Sentani. (Foto/antara)

Baty Beranak di Danau Sentani. (Foto/antara)

SENTANI (Kontroversinews.com) – Saat Danau Sentani mulai surut, ketika itulah sejumlah batu peninggalan prasejarah terlihat jelas. Masyarakat menyebutnya batu beranak, karena seperti melambangkan keluarga.

Tiga batu berjejer di pinggiran danau wilayah Kampung Kwadeware, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, memang tampak seperti satu keluarga. Batu paling besar dianggap sebagai batu laki-laki, lalu ada batu perempuan dan batu anak. Sebagian warga meyakininya sebagai jelmaan nenek moyang Suku Tutari Sentani.

Peneliti dari Balai Arkeologi Provinsi Papua, Hari Suroto mengatakan, batu ini merupakan benda purbakala peninggalan zaman megalitik yang berada di Danau Sentani. “Saat air danau surut, batu-batu ini terlihat muncul di permukaan,” kata Hari di Kota Sentani, Kabupaten Jayapura pada Oktober 2020 lalu yang dikutip dari Laman iNews.

Hari mengatakan, pada musim kemarau, permukaan danau yang terletak di Kabupaten Jayapura itu surut karena pasokan air dari sumber mata air Cyclops berkurang. Namun saat air Danau Sentanin sedang pasang, batu prasejarah ini hanya terlihat samar-samar. Penemuan benda bersejarah ini pun sempat membuat geger warga.

Menurut dia, keberadaan Batu Beranak di Danau Sentani ini diduga sengaja dibawa oleh penduduk di zaman dulu dari Kaki Gunung Cyclop untuk tujuan tertentu. Sebab jenis Batu Beranak tidak sama dengan jenis bebatuan di sekitar danau. Benda ini didapatkan di Pegunungan Cyclops, jenis batuan beku peridotit.

“Posisi batu ini berdiri, jadi memang ada unsur kesengajaan. Maksudnya memang orang yang membawanya ke danau kemudian diberdirikan,” kata Hari Kepala Balai Arkeologi Papua, Gusti Made Sudarmika mengatakan, batu ini peninggalan zaman megalitik. Saat itu manusia menjadikan batu besar sebagai tempat pemujaan.

Bukan hanya batu beranak ini, sejumlah situs zaman prasejarah juga sudah banyak ditemukan di Kabupaten Jayapura. Di antaranya Situs Tutari di Distrik Waibu, Menhir di bawah kaki Gunung Cyclop dan sejumlah penemuan lainnya.***AS

Berita Terkait

AMKI Jakarta Kolaborasi Dengan Smesco Siap Dukung UMKM
Puskesmas Brebes Terus Tingkatkan Layanan Kesehatan di Bawah Kepemimpinan Dr Heru Padmonobo
Sentuh Lansia dan Disabilitas, Bupati Brebes Hadirkan Layanan Adminduk dan Cek Kesehatan Gratis di Desa
Ditjen Bina Keuda Kemendagri Satukan Persepsi Keuangan Daerah Lewat Rakornas
Perkuat Kolaborasi, Pemkot Cirebon Dukung MBG untuk Pemenuhan Gizi dan Perputaran Ekonomi
Mad Sutisna Kembali Daftar Sebagai Calon Ketua KWRI Kabupaten Tangerang, Siap Tuntaskan Program Yang Belum Rampung
RSD Gunung Jati Kota Cirebon Dapat Penghargaan Platinum Dari WSO Angels Award Dalam Penanganan Penyakit Stroke
Gatut Susanta Kembali Berkarya Dan Terbitkan Buku Di Yogyakarta, Kali Ini Bertema Pesona Tombak yang Melegenda

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 08:52

AMKI Jakarta Kolaborasi Dengan Smesco Siap Dukung UMKM

Rabu, 21 Januari 2026 - 18:53

Puskesmas Brebes Terus Tingkatkan Layanan Kesehatan di Bawah Kepemimpinan Dr Heru Padmonobo

Rabu, 21 Januari 2026 - 18:52

Sentuh Lansia dan Disabilitas, Bupati Brebes Hadirkan Layanan Adminduk dan Cek Kesehatan Gratis di Desa

Jumat, 16 Januari 2026 - 14:28

Ditjen Bina Keuda Kemendagri Satukan Persepsi Keuangan Daerah Lewat Rakornas

Kamis, 18 Desember 2025 - 17:16

Perkuat Kolaborasi, Pemkot Cirebon Dukung MBG untuk Pemenuhan Gizi dan Perputaran Ekonomi

Berita Terbaru