Potensi Budidaya Kurma di Kampung Gambung Terbengkalai

oleh -7 views

PASIRJAMBU || KONTROVERSINEWS – Di Indonesia, kurma menjadi salah satu produk yang sangat penting. Selain memiliki banyak manfaat, kurma juga menjadi buah yang spesial bagi masyarakat yang beragama Islam. Oleh karena itu, kurma dinilai memiliki potensi ekonomi yang bagus.

Pembudidaya pohon kurma asal Kampung Gambung Desa Mekarsari Kecamatan Pasirjambu, Sultan Rustana mengatakan bahwa dirinya telah menjalani kegiatan budidaya pohon kurma sejak tahun 2012. Pada saat itu, satu pohon kurma dengan ukuran kurang dari satu meter bisa dijual dengan harga Rp500 ribu.

“Hanya menjual bibitnya, waktu itu banyak di borong. Ke bogor banyak (yang beli), lebih dari 200 pohon,” ujar Utan saat ditemui di kebunnya, Kampung Gambung RW 3 RT 2 Desa Mekarsari Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung, Rabu (27/1/2021).

Namun kini, kata Utan, tidak banyak orang yang datang ke kediamannya untuk membeli tanaman kurma. Hal tersebut dikarenakan sudah banyak orang yang membudidaya pohon kurma. Selain itu, Utan mengaku menemui beberapa kendala saat membudidaya buah asal timur tengah tersebut. Kendala yang paling utama adalah masalah pupuk. Kata Utan, saat ini sangat sulit untuk membeli pupuk, karena harus memiliki kartu tani.

“Biasanya pakai pupuk urea, dikomponen jadi NPK. Kalau beli NPK mahal, kalau ngomponen sendiri mah bisa murah. Sekarang NPK masih dijual tapi lebih mahal,” jelas Utan.

Menurut Utan, jika ketersediaan pupuk ada dan mudah didapat, maka budidaya pupuk memiliki prospek yang bagus. Bahkan di daerah lain seperti Sumatera dan Kalimantan, kata Utan, ada yang membuka perkebunan kurma.

“Boleh dianggap buat saya mah engga maju, terkendala di pupuk. Kalau ada pupuk mah bagus, saat sedang berbunga banyak dibeli, misalnya ke Semarang,” ungkap Utan.

Budidaya pohon kurma sama seperti menanam pohon biasa. Namun yang terpenting adalah jangan sampai kekurangan air. Katanya, jika banyak air maka lebih bagus. Terkait cuaca, kata Utan, diantara 15 sampai 55 derajat. Dan yang terpenting adalah tercukupi nutrisinya. Karena dalam tiga tahun, buah kurma di Indonesia bisa di panen.

“Engga susaah, cuma kalau dia beranjak besar, terus akarnya semakin dalam, di dalam kurang nutrisi. Makanya saya kalau pasang NPK di bor dulu, sampai kedalaman satu meter,” ucap Utan.

“Malah dulu pernah diperiksa tanahnya, jadi disini tanahnya makin dalam makin miskin nutrisinya jadi harus betul-betul dibantu, kalau masih umur tiga tahun atau lima tahun kan akar masih ada diatas. Makanya disini banyak yang subur berbunga di tiga, empat dan lima tahun. Tapi setelah enam tahun harus dibantu,” sambungnya.

Utan mengaku ingin bisa terus membudidaya kurma tersebut. Oleh karena itu, dirinya berharap ada perhatian dari pemerintah, terutama mengenai pupuknya.

“Dari pemerintah ada yang pernah kesini tapi engga ada kelanjutannya. Kalau pupuknya stabil harganya mau lanjut, prospeknya bagus,” pungkasnya. ( Lily Setiadarma )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *