PASIRJAMBU | Kontroversinews – Ratusan warga menjadi pengrajin di Desa Mekarmaju, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Mereka ada yang berprofesi sebagai pandai besi dan sebagiannya sebagai pengrajin asesoris pisau. Desa yang dijuluki sebagai Kampung Pandai Besi ini menjual produknya ke berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Di Kampung Sukamahi, RT 01 RW 03, Desa Mekarmaju, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, terdapat kurang lebih 10 penempa yang sehari-hari bekerja membuat golok. Namun, kurang lebih sebanyak 100 orang di kampung tersebut yang berprofesi sebagai pengrajin perkakas.

“Di kampung ini, pengrajinnya golok semua. Kurang lebih 100 orang. Kalau pandainya (penempa) mah sepuluh orang terbilang langka,” ujar Agus disela-sela menempa besi saat ditemui di bengkelnya, Kamis (22/8).
Menurutnya, pekerjaan penempa yang berat membuat generasi muda di Kampung Sukamahi enggan menggeluti profesi tersebut. Mereka katanya lebih memilih bekerja yang lain atau bekerja ke Kota Bandung.
Dirinya mengungkapkan, saat ini geliat penjualan perkakas golok tengah naik dibandingkan beberapa bulan ke belakang saat pilpres berlangsung. Katanya, pesanan banyak datang diantaranya dari wilayah Sukabumi, Jawa Barat.
“Yang beli dari mana-mana, banyak yang datang kesini dan ngambilan. Dalam seminggu bisa satu truk perkakas golok dikirim ke Sukabumi dari seluruh pengrajin,” katanya.
Agus mengungkapkan pengerjaan menempa besi dilakukan hanya 10 menit. Namun untuk penyelesaian atau finishing membutuhkan waktu. Katanya, pemesan yang membeli dari Sukabumi banyak memasarkan produk goloknya salah satunya ke Malaysia, Kalimantan, Bukit Tinggi.
Dirinya mengatakan, produk goloknya dihargai dengan harga yang bervariasi tergantung panjang dan besar. Namun, harga yang dijual terendah sekitar Rp 9000 dan tertinggi Rp 20 ribu.
“Alhamdulillah sekarang lagi bagus penjualan banyak yang pesan. Omset perbulan kurang lebih Rp 15 juta,” ungkapnya.
Salah seorang pengrajin lainnya, Aa Sujana (68) di Kampung Salamanja, RT 02 RW 13, Desa Mekarmaju mengaku sejak tahun 1970 bergelut dibidang membuat perkakas pertanian. Beberapa barang yang dibuatnya yaitu pacul dan garfu.

Kepala Desa Mekarmaju, Usep Bunyamin mengatakan di desanya terdapat 8 RW yang banyak berprofesi sebagai pengrajin pandai besi perkakas atau untuk cinderamata. Dua RW yaitu RW 01 dan 11 katanya khusus mengolah besi dengan menempa untuk dijadikan perkakas yaitu golok, arit dan kapak.
Sementara 6 RW yang lainnya melakukan penyelesaian atau finishing. Dua RW diantaranya yaitu RW 03 dan 12 memproduksi pisau-pisau untuk cinderamata. Dirinya menambahkan permasalahan yang dihadapi pengrajin saat ini adalah bahan baku yang sulit diperoleh. “Rata-rata besi yang dipakai sisa-sisa besi (bekas),” katanya.
Kepala Dinas Perindusttian dan Perdagangan Kabupaten Bandung, Hj. Popi Hopipah mengungkapkan pihaknya mendorong perkembangan kampung pandai besi. Salah satunya mereka mendapat bantuan peralatan senilai Rp 750 juta dari Kementerian Perindustrian.
Dengan harapan, katanya pihaknya berharap produk mereka bisa bersaing dan berkualitas di pasaran, terutama untuk perkakas pertanian. Selain itu diharapkan agar impor peralatan pertanian tidak masuk. “Produk pandai besi kita bisa besar dan hidup kembali,” katanya. (Lily Setiadarma)








