Dirut RS Arjawinangun, Kabag Pem Setda dan Ketua Pokja ULP Hindari Wartawan

oleh -10 views

Kab.Cirebon | Kontroversinews-Tidak adanya transparansi persoalan anggaran pembangunan fisik rumahsakit arjawinangun,dari pemerintah propinsi jawa barat sebesar 30 miliar mengundang tanda tanya besar.\

Pasalnya,bantuan anggaran dari pemprov jabar sebesar tersebut diduga akan diakali.hal ini terlihat,saat wartawan media ini mendapatkan kiriman vidio lewat whatsapp dari nomer seseorang yang tidak dikenal.vidio berdurasi sekitar tujuh menitan tersebut dibarengi dengan tulisan singkat “bisa garap masalah ini nggak ?” kata orang dibalik nomer telpon yang tidak dikenal itu.dan saat wartawan media ini menjawab,”bisa,tapi ini siapa ?”.nomor orang tidak dikenal tersebut sudah tidak aktif lagi,bahkan ketika dicoba ditelpon langsungpun tidak ada nada sambung sama sekali.

Atas petunjuk vidio tersebut,wartawan media ini mencoba menghubungi via telpon dan mencoba datang langsung ketempat kerja orang-orang yang dianggap paling berkompeten dalam perihal dana bantuan propinsi sebesar 30 miliar untuk pembangunan fisik gedung rumahsakit umum daerah arjawinangun.diantaranya,dokter bambang selaku direktur utama rumahsakit,edi kepala bagian pembangunan disekretariat daerah kabupaten cirebon,dan yono selaku ketua kelompok kerja (pokja) unit lelang dan pengadaan (ulp) pemerintah kabupaten cirebon propinsi jawabarat.ketiga orang yang digadang-gadang bisa memberikan klarifikasi seputar dana 30 miliar dari propinsi jabar untuk rumahsakit arjawinangun ini ternyata sangat-sangat sulit untuk ditemui,bahkan untuk membalas sms/chat WA dari wartawan media ini saja tidak ada.namun sang dokter bambang selaku rumahsakit arjawinangun sempat membalas sms,itupun hanya singkat saja isinya.

“Punten saya lagi ada rapat di luar ..”,ucap dokter bambang.dan saat ditanya kapan bisa bertemu serta bisa menjawab klarifikasi dari wartawan media ini,sang dokter yang juga direktur utama rumahsakit arjawinangun ini tidak membalas dan enggan untuk menjawab.atas dasar klarifikasi yang kurang memuaskan dari dirut rumahsakit arjawinangun tersebut,wartawan media ini mencari kepala bagian pembangunan setda cirebon bernama edi.karena dari vidio kiriman orang tak dikenal inilah,sosok edi jelas terekam sempurna berikut suaranya yang intinya menerangkan bahwa dana propinsi untuk rumahsakit umum daerah arjawinangun memang benar adanya.

bahkan sempat edi berkomentar,kalau dana itu sudah turun penuh/full 30 miliar dan sedang menunggu kedatangan orang dari pihak rumahsakit untuk mewacanakan tentang perubahan anggaran tersebut yang tidak melulu untuk pembangunan fisik saja.tapi edi sang kabag pembangunan setda cirebon,susah untuk ditemui setelah dua kali didatangi wartawan media ini.bahkan dihubungi lewat pesan singkatpun,edi tidak membalas.

Sementara terkait ketua pokja ulp kabupaten cirebon yono,yang diduga otak dari permainan lelang kotor penentuan tentang PT/CV apa yang berhak menjadi konsultan/MK (manajemen konstruksi) pada pembangunan fisik dirumahsakit arjawinangunpun susah ditemui dan tidak mau membalas sms dari wartawan media ini.bahkan ketika wartawan media ini menulis nomer telpon dibuku tamu kantornyapun,tidak ada respon sedikit juga.
Dugaan permainan lelang kotor dalam mencari konsultan ini terkuak saat nomor orang tak dikenal tersebut kembali mengirim chatting dan sebuah photo kertas daftar peserta lelang yang mana peserta lelangnya hanya dari PT/CV yang diduga milik satu orang yang diduga punya kedekatan dengan ketua pokja lelang,isi chat tersebut menjelaskan kalau CV nya (orang tak dikenal,red) selalu dijegal dalam mengikuti proses lelang konsultan.

Pertama,dia bawa cv pertama dijegal lewat standar ISO yang memang belum dimilikinya saat proses pendaftaran lelang.kedua jelas dia,membawa CV yang kedua yang memiliki ISO 9001,dijegal juga dengan cara tidak mendapat undangan on-line maupun tulis saat proses verifikasi dan kevalidan dokumen para peserta lelang.
Sampai berita ini tayang,tidak ada satupun dari ketiga orang dokter bambang,kabag pem edi,dan ketua ulp yono yang berkomentar. (KUSYADI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *