Wagub: Keberadaan Santri Semakin Populer

oleh -215 Dilihat
oleh

Kab Bandung | Kontroversinews.- Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum, mengharapkan, momen perayaan hari santri 2018, menjadi sebuah upaya untuk mengubah santri menjadi semakin dihargai dan diakui keberadaannya oleh negara maupun masyarakat lainnya.

Setelah Pemerintah Republik Indonesia menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional pada 2015, Uu mengaku, keberadaan santri semakin populer dan dihargai oleh masyarakat.

“Puncak perayaan Hari Santri Nasional dilakukan di Jawabarat, dibuktikan dengan predisen hadir, saya selaku komunitas santri begitu antusias, karena santri biasanya hanya di kampung saja, merasa dimarjinalkan,” kata Uu, saat menghadiri Pekan Nasional Keselamatan Jalan 2018 di Gedong Budaya Sabilulungan, Jalan Al Fathu, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Minggu (21/10/2018).

Adanya momen Hari Santri ini pun, ia berharap adanya bantuan dari pemerintah pusat untuk pesantren, sama halnya dengan program pemerintah dalam meningkat derajat pendidikan formal laiinya masyarakat yang anggarannya, dialokasikan untuk beberapa kepentingan.

Uu melanjutkan, keberadaan pesantren pun, memiliki misi untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat, sehingga pemerintah haru memberikan bantuan secara merata.

“Pertanyaan saya, kenapa dalam meningkatakn keimanan dan ketaqwaan dan pembangunan manusia seutuhnya tidak ada,” kata Uu.

Mudah – mudahan di masa kepemimpinan yang akan datang, setelah adanya wacana untuk membentuk Kementrian Pesantren oleh salah satu pasangan Capres dan Cawapres RI dapat terwujud

“Kenapa tidak ? memang ada bantuan ke pesantren, tapi tidak kontinyu,” katanya.

Di Tasikmalaya sendiri, kata Uu, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, rutin memberikan bantuan untuk pesantren untuk keberlangsungan pendidikan yang juga sama – sama berupaya mencerdaskan bangsa.

“Di Tasikmalaya begitu, tetapi kan kalau ganti bupati, saya khawatir tidak akan abadi. Saya ingin alumninya diakui oleh negara, sebenarnya saya masih sakit hati, pesantren masih disebut non formal, padahal silabus dan kurikulum kami jelas,” kata Uu. (Lily Setiadarma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *