Ribuan Anak Usia Dini Antusias Ikuti Senam Stunting

oleh -4 views

SOREANG | Kontroversinews – Ribuan orang anak usia dini antusias mengikuti senam penguin, senam stunting dan senam 123 pada acara Gebyar 2.000 Usia Dini se-Kabupaten Bandung di halaman Bale Rame, Soreang, Rabu (4/9/2019). Acara tersebut merupakan rangkaian peringatan Hari Anak Nasional.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, DR.H. Juhana MMPd, didampingi Kabid PAUD dab PNFI H. Djunjunan SPd, M.Si, menuturkan, berbagai senam yang dilakukan ribuan anak usia dini itu dilakukan secara berjemur di bawah terik matahari sejak pukul 07.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB. Tujuan kegiatan itu, kata dia, berguna untuk melatih sensor motorik anak-anak.

“Senam penguin sambil berjemur ini diharapkan agar kesehatan tulang baik untuk masa pertumbuhan anak. Selain sensor motorik kasar (senam) kami juga melatih sensor motorik halus, caranya mereka bersosialisasi dengan lingkungan. Saling tegur sapa dengan yang lain,” kata H.Juhana disela-sela kegiatan .

Dikatakan H.Juhana, latihan sensor motorik dilakukan agar anak-anak usia dini terbiasa merespon lingkungan agar menambah pengalaman dalam bersosialiasi. Jika tidak demikian maka anak usia dini akan cenderung pasif.

“Beda dengan anak-anak yang dulu yang enggak ikut PAUD. Respon lingkungannya kurang. Kalau ditanya tidak jawab. Jadi anak yang pemalu. Kami tidak ingin anak-anak usia dini ini begitu,” kata dia.

Menurut H. Juhana, selain melatih sensor motorik anak usia dini, dalam kegiatan itu ia juga mengingatkan kepada para orang tua untuk mewaspadai ancaman stunting pada anak. Orang tua, kata dia, harus memberi perhatian khusus kepada anak terutama masalah gizi makanan agar terhindar dari stunting.

“Caranya yaitu dengan memperhatikan pola makan anak-anak. Anak-anak harus mendapat asupan gizi yang baik. Misal, anak-anak harus makan telur, susu, dan juga makan ikan,” kata dia.

Masih kata H.Juhana menuturkan, budaya merokok orang tua juga berpengaruh terhadap pencegahan stunting. Pasalnya, jika budaya merokok bisa dihentikan dan uang untuk membeli rokok dialokasikan ke makanan bergizi untuk anak maka kasus stunting di usia dini akan bisa ditekan.

“Angka konsumsi rokok di Kabupaten Bandung itu mencapai 12,4 persen. Itu menempati urutan ketiga angka belanja makanan dan minuman. Kalau dibelanjakan ikan, telur, atau susu, untuk kesehatan anak justru lebih bermanfaat. Kami berharap yang masih merokok berfikir lebih rasional,” pungkasnya. (Lily Setiadarma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *