Padepokan Wungkal Djati Kusuma Bagikan Bubur Suro

oleh -90 Dilihat
oleh

CIREBON, (Kontroversinews), – Padepokan Wungkal Djati Kusuma rutin menggelar tradisi pembagian bubur suro setiap Hari Asyura tanggal 10 Bulan Muharram.

Tradisi ini digelar di Padepokan Wungkal Djati Kusuma, Kelurahan Pasalakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon pada Kamis, 27 Juli 2023.

Dewan Pendiri Padepokan Wungkal Djati Kusuma, Raden Bagus Wangsa Taruna menjelaskan, sebanyak 500 porsi bubur suro yang akan dibagikan kepada warga sekitar.

“Alhamdulillah keluarga besar Padepokan Wungkal Djati Kusuma menggelar tradisi pembagian bubur suro,” kata Mamo Ilik sapaan akrab Raden Bagus Wangsa Taruna saat tradisi pembagian bubur suro berlangsung di Padepokan Wungkal Djati Kusuma.

Ia pun mengungkapkan, makna dari tradisi pembagian bubur suro itu yakni, bubur suro merupakan bentuk pengungkapan rasa syukur manusia atas keselamatan yang selama ini diberikan oleh Allah SWT.

“Makna pembagian bubur suro ini merupakan bentuk rasa syukur dan bisa berbagi bertepatan pada tanggal 10 Asyura,” ujar Mamo Ilik.

Sementara itu, Ketua Padepokan Wungkal Djati Kusuma, Dedi Sopian menjelaskan, tradisi pembagian bubur suro merupakan bentuk pelestarian tradisi dan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur pada masa lampau.

“Alhamdulillah, Padepokan Wungkal Djati Kusuma hari ini telah mengadakan kegiatan atau tradisi pembagian bubur suro,” ungkap Dedi Sopian.

Dalam tradisi ini, lanjut dia, keluarga besar Padepokan Wungkal Djati Kusuma hari ini akan membagikan 500 paket bubur suro kepada warga sekitar.

“Alhamdulillah pembagian bubur suro ini merupakan bentuk rasa syukur dan bisa berbagi bertepatan pada tanggal 10 Asyura,” katanya.

Menanggapi hal ini, Ketua Kelompok Sadar Kebuyutan (POKDARYUT), Raden Muhamad Hafid Permadi menyampaikan apresiasinya kepada keluarga besar Padepokan Wungkal Djati Kusuma yang telah menjaga tradisi yang sudah diwariskan oleh leluhur pada masa lampau.

“Alhamdulillah bahwa Padepokan Wungkal Djati Kusuma masih menjalankan adat tradisi leluhur Cirebon,” ucap Mamo Nang sapaan akrab Raden Muhamad Hafid Permadi.

“Berbagai rasa dan bentuk rasa syukur di tanggal 10 Asura dan dibagikan di beberapa titik serta beberapa situs Masjid-Masjid Kramat yang berada di wilayah Cirebon Selatan,” sambungnya.

Dalam kesempatan ini, Raden Muhamad Hafid Permadi mengajak masyarakat Cirebon agar senantiasa menjaga serta melestarikan adat dan tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur.

“Agar masyarakat Cirebon khususnya untuk meneruskan adat tradisi yang di turunkan atau diwariskan oleh leluhur untuk memiliki rasa kepekaan dalam hidup bermasyarakat dengan mengadakan selametan atau syukuran dan sedekah,” ucapnya. (Arsy Al Banzary)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *