Kolam Retensi Cienteung Belum 100 Persen Beroperasi, Warga Diminta Sabar

oleh -131 Dilihat
oleh

Kab Bandung | Kontroversinews.- Bupati Bandung, Dadan M Maser mengungkapkan pembangunan kolam retensi di Kampung Cienteung, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung baru mencapai 86 persen. Para warga diimbau bersabar sehingga diharapkan jika sudah 100 persen bisa meminimalisasi banjir yang ada.

“Masyarakat diharapkan bisa bersabar dengan proses pekerjaan danau hingga selesai,” ujarnya saat meninjau kolam retensi Cienteung, Selasa (13/11). Ia mengungkapkan, saat ini danau retensi Cieunteung memang belum berfungsi.

Menurutnya, pihaknya terus berupaya meminimalisasi resiko bencana banjir yang dialami masyarakat. Sementara pengendalian banjir seperti kolam retensi wilayah Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWS).

“Saat ini memang danau retensi ini baru 86 persen dan belum berfungsi. Kalau sudah 100 persen, pompanisasi kan berjalan dan bisa mengurangi banjir,” ungkapnya.

Dirinya mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diperoleh dari 8,7 hektar lahan yang dibebaskan pemerintah, sekitar 4 hektar sudah dibangun danau retensi dengan kedalaman 6 meter. Ia mengatakan, pihaknya terus memaksimalkan penanganan terhadap korban banjir.

Dadang menambahkan, semua pihak berkontribusi dalam penanganan banjir di tiga kecamatan Baleendah, Bojongsoang dan Dayeuhkolot. Diantaranya, PMI, Tagana, TNI, Polri, Dinas Kesehatan dan rumah sakit.

“Mohon bersabar masyarakat di tiga kecamatan ini, untuk penanganan korban dan para pengungsi, pemerintah siap sepenuhnya,” ujarnya. Ia pun mengaku siap melakukam rapat koordinasi dengan seluruh kepala daerah di Bandung Raya terkait masalah banjir yang diwacanakan Gubernur Jabar Ridwan Kamil.

Dadang pun mengimbau agar masyarakat tetap waspada dan berhati-hati dengan kondisi cuaca yang seringkali ekstrim. Selain itu, masyarakat diminta terus siaga dan memonitoring banjir yang tengah terjadi.

Kepala BBWS Citarum, Bob Arthur Lombogia mengatakan kapasitas kolam retensi hanya menampung air sekitar 200 ribu meter kubik. Selanjutnya, air akan dipompa hingga stabil pada elevasi 6,59 dan dipompa terus sebanyak kapasitas 12,5 meter kubik/detik.

“Saat ini belum digunakan, karena masih ada daerah terbuka sekitar 3 meter di area danau. Pompa baru kita operasikan 1 unit yang kapasitasnya 2 meter kubik/ detik. Kalau yang 3,5 meter totalnya ada 10, belum dioperasikan karena memang belum rampung,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, kolam retensi Cienteung diharapkan bisa mengendalikan banjir. “Danau ini hanya berfungsi untuk mengendalikan banjir supaya tidak parah,” ungkapnya. Dirinya menambahkan, jika curah hujan yang turun intensitasnya lebat dan terjadi berhari-hari, banjir akan sulit dikendalikan.

Menurutnya, dari hasil desain danau seluas 4 hektar dengan kedalaman 6 meter ini akan mereduksi banjir di Bandung Selatan seluas 91 hektar. “Kalau soal bebas banjir, ga akan ada yang sanggup menjamin,” ungkapnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung mengungkapkan hujan deras yang terjadi sejak satu pekan terakhir dan merata menyebabkan tiga kecamatan yaitu Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang terendam banjir.

Pemukiman warga, fasilitas umum dan fasilitas sosial juga beberapa diantaranya terendam banjir akibat luapan sungai Citarum dan anak sungai Citarum, sungai Cisangkuy. “Ketinggian air rata-rata dari terendah 10 cm hingga tertinggi 120 cm,” ujar Kabid BPBD Kabupaten Bandung, Sudrajat.

Ia menuturkan, sebanyak 136 kepala keluarga, 441 jiwa, 62 lansia, empat ibu hamil dan 32 balita mengungsi di posko pengungsian yang sudah disediakan oleh pemerintah daerah. Beberapa posko pengungsian yaitu GOR Inkanas, Shelter Parunghalang, Gedung Tango, shelter Dayeuhkolot dan di empat mesjid.

Ia menambahkan, sebanyak 22 kecamatan dari 31 kecamatan yang ada rawan longsor dan banjir. Saat ini, tiga kecamatan diantaranya yaitu Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang terendam banjir. Kecamatan yang rawan banjir yaitu Majalaya, Solokan Jeruk, Rancaekek, Bojongsoang, Baleendah, Dayeuhkolot, Pameungpeuk. (Lily Setiadharma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *