Cara Pelajar Pangalengan Tolak Budaya Valentine lewat “Dilan”

oleh -6 views

Kab Bandung | Kontroversinews.-BANYAK cara kreatif yang bisa dilakukan oleh pelajar untuk menangkal budaya valentine yang diperingati setiap 14 Februari. Salah satunya lewat Diskusi Literasi dan Kepenulisan (Dilan), yang digagas oleh Klub Aksara Literasi Madrasah Aliyah Ishlahul Amanah (Kalam) Pangalengan bersama OSIS, IRMAS dan Organisasi Keputrian dalam rangka kegiatan Kalam Fest 2018.

Dilan yang kini tengah hits diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia khususnya anak muda, ternyata memberikan ide segar bagi para pelajar Pangalengan untuk menghidupkan ruang-ruang kreatifitas dan literasi, dalam rangka menolak perayaan valentine.

“Dilan adalah cara kami sebagai pelajar untuk meluruskan sejarah dan aqidah generasi muda Islam, bahwa valentine bukan budaya Indonesia dan bukan ajaran Islam,” ujar Pembina Kalam Pangalengan, Ridwan Rustandi di sela-sela kegiatan, Senin (12/2/2018).

Seperti diketahui, Dilan merupakan sosok pelajar laki-laki Sekolah Menengah Atas (SMA) yang diperankan oleh artis muda, Iqbal Coboy Junior di film Dilan 1990. Film tersebut menceritakan kisah kasih dua pelajar SMA di Bandung pada 1990.

“Nama Dilan di sini sebenarnya hanya kami jadikan singkatan saja dari kegiatan yang digelar. Walau sekarang film tersebut memang sedang digandrungi khususnya oleh pelajar, kami coba mengajak agar pelajar di Pangalengan tidak terlena,” katanya.

Selain Dilan, panitia juga menyelenggarakan talkshow yang bertajuk “Hidup Gaul Islami (HIGAMI) Tanpa Valentine” dengan menghadirkan pasangan nikah muda, Adi Tahir Nugraha dan Amilah Qishtie.

Ridwan menilai, bahwa hari ini banyak generasi muda Islam yang mulai kehilangan arah dan banyak mengamalkan tradisi yang jauh dari ajaran Islam bahkan menyesatkan.

“Kami berharap dengan gerakan ini, pelajar Pangalengan menjadi generasi yang tercerahkan. Silahkan mengikuti perkembangan di zaman modern ini, tapi harus bisa membentengi diri. Salah satunya dalam menggunakan media sosial, harus lebih cerdas dan tidak mudah terbawa arus,” ujarnya.

Diskusi ini menghadirkan Narasumber bidang Jurnalistik senior, Sutanto Nurhadi Permana dan Penulis Buku Kerikil Harapan, Teguh Deni Aljabar. Acara tersebut diikuti kurang lebih oleh 400 peserta yang terdiri dari pelajar SMP dan SMA se-Pangalengan, Kab. Bandung.

Selain itu, diselenggarakan pula perlombaan yang meliputi lomba menulis essay dan lomba video kreatif. “Lomba Essay dan Video Kreatif kami selenggarakan sebagai bagian dari menghidupkan ruang literasi dan kreatifitas pelajar. Sebab, pelajar cerdas adalah mereka yang siap menjadi generasi pelurus sejarah”, terangnya.

Ridwan berharap, melalui kegiatan Kalam Fest ini, pelajar Pangalengan khususnya di Kabupaten Bandung bisa menjadi agen perubahan yang siap menghidupkan ruang-ruang literasi bagi kemajuan bangsa dan negara, Paparnya ( Lily Setiadarma).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *