Suasana Sakral Malam 1 Suro Di Keraton Kacirebonan, Sultan Dapat Hadiah Batu Pasujudan Dari Warga Padepokan Wungkal Djati Kusuma

oleh -132 Dilihat
oleh

KOTA CIREBON, (Kontroversinews), – Malam 1 Suro atau yang kita kenal dengan sebutan 1 Muharram, merupakan awal pergantian tahun dalam kalender islam atau yang sering kita sebut dengan Tahun Baru Islam. dan dalam tradisi keraton sendiri, tahun baru islam selalu dimulai di hari jum’at awal penghitungan kalender islam itu sendiri. artinya, tahun baru islam menurut kerabat keraton kacirebonnya barulah dimulai pada tanggal 21 Juli 2023. berbagai kegiatan mengisi acara pergantian tahun baru di keraton kacirebonan tadi, mulai dari memandikan (jamasan) benda pusaka peninggalan masa lampau dari keris, pedang , golok, hingga tombak. disusul tradisi adzan pitu (tujuh), tumpengan, pawai obor (kirab agung), ramah tamah antara sultan dan rakyatnya, serta ditutup dengan pertunjukan wayang kulit.

Saat pelaksanaan ramah tamah, nampak hadir pula Irjen Pol Dr. Agung Makbul, SH. MH, putra kelahiran pamitran cirebon pada 6 Mei 1964 dan anak dari seorang kyai yang saat ini menjabat sebagai Staf ahli Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan bidang Ideologi dan Konstitusi. hadir juga anggota DPR-RI dari fraksi Demokrat, H. Herman Khaeron, dan masyarakat cirebon. ada yang menarik dalam acara ramah tamah tersebut, ada perkumpulan penggiat agama, seni dan budaya yang bernama Padepokan Wungkal Djati Kusuma. yang dalam acara tersebut, memberikan sebuah hadiah berupa benda pipih persegi panjang dengan ketebalan sekitar 10 sentimeter dengan berat bobot yang diperkirakan mencapai 70 kilogram. benda tersebut bernama batu lampit atau batu pasujudan, yang fungsinya sendiri untuk digunakan sebagai alas dalam kegiatan melakukan ibadah sholat. batu pasujudan tersebut diserahkan langsung oleh pendiri sekaligus pembina Padepokan bernama Raden Bagus Wangsa Taruna atau yang akrab dipanggil Mamo Ilik, dan digotong oleh Ki Rojim, Kang Tekle, Kak Ros, Jamil, dan hampir separoh warga Padepokan Wungkal Djati Kusuma yang mengikuti.

Batu lampit/pasujudan diterima oleh Sultan ke-9 Abdul Gani Natadiningrat dengan perasaan terharu, karena sudah jarang masyarakat cirebon yang peduli kepada sultannya saat ini. acara yang berlangsung di bangsal agung prabayaksa keraton kacirebonan tersebut dinilai oleh mamo ilik sangatlah sakral. karena bertepatan dengan malam jum’at tanggal 20 Juli 2023, dan diadakan ditempat yang menjadi saksi kejayaan kerajaan cirebon masa lampau. usai memberikan hadiah tersebut kepada Sultan Keraton Kacirebonan, Raden Bagus Wangsa Taruna alias Mamo Ilik menyempatkan diri berbincang dengan wartawan media ini. dalam kesempatan tersebut dirinya menyampaikan, bahwa apa yang dilakukan dirinya bersama warganya adalah untuk menunjukkan bahwa rakyat cirebon masih menjunjung tinggi adat tradisi peninggalan nenek moyang dan akan selalu hormat kepada rajanya. yang dijaman sekarang, hal tersebut hampir punah dengan langgengnya Republik Indonesia. “saya akan terus melestarikan adat dan budaya cirebon, terlebih yang berbau keagamaan. sultan, dalam hal ini adalah raja kami dicirebon akan selalu kita hormati serta kita jaga. dan sebagai perwujudan penghormatan serta kasih sayang kami sebagai rakyat cirebon, kami tuangkan dalam sebuah benda berbentuk batu lampit atau batu pasujudan tadi mudah-mudahan bisa terus dipakai secara turun-temurun. besar harapan kami dari padepokan wungkal djati kusuma ini, semoga cirebon selalu berjaya dan dikenang akan keluhuran budi pekertinya. makmur dan sehat rakyat serta sultannya, semoga” pungkan Mamo Ilik. (Kusyadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *