KAB. BANDUNG, KONTROVERSINEWS | Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Dr. H. Dadang M. Naser, SH., M.I.Pol., mendorong pengelolaan dan pelestarian hutan melalui pendekatan agroforestri yang memadukan kepentingan lingkungan dengan peningkatan ekonomi masyarakat. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan sosialisasi agroforestri dan pelestarian hutan.
Dadang menjelaskan, agroforestri merupakan pendekatan yang memadukan tanaman kehutanan dengan tanaman produktif yang memiliki nilai manfaat dan ekonomi bagi masyarakat. Selain mempertahankan tegakan dan tanaman endemik, kawasan sekitar hutan dapat dikembangkan dengan tanaman buah-buahan serta tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak.
Menurut Dadang, sejumlah tanaman seperti kelor, cebreng, tarum, dan salam memiliki potensi ekonomi untuk dikembangkan secara lebih terencana. Namun, selama ini tanaman tersebut masih banyak dibudidayakan secara parsial sehingga produksinya belum mampu memenuhi kebutuhan industri secara berkelanjutan.
Karena itu, ia mendorong pengembangan tanaman produktif melalui pola hamparan atau klaster. Pola tersebut dinilai dapat memudahkan pengumpulan hasil panen sekaligus membuka akses pemasaran yang lebih terorganisasi.

“Kalau untuk industri yang bisa dijual daunnya, kita harus membuat sentra tanaman, misalnya daun salam dan daun kelor. Dengan sistem klaster, ketika ada kebutuhan industri, hasilnya bisa dipanen dan dikumpulkan dengan lebih mudah,” ujar Dadang dalam pemaparannya, Sabtu (19/9/2026.
Selain tanaman daun, Dadang menyoroti potensi pengembangan sukun dalam skala lebih luas. Menurutnya, sukun tidak hanya bernilai sebagai bahan pangan, tetapi juga dapat diolah untuk berbagai kebutuhan, termasuk menjadi tepung. Nilai jual tepung sukun yang cukup tinggi menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan melalui produksi berbasis hamparan agar ketersediaan bahan baku lebih terjamin dan harga lebih kompetitif.
Dadang menegaskan bahwa pengembangan agroforestri tidak cukup hanya melalui pendekatan teknis, tetapi juga membutuhkan rekayasa sosial dengan melibatkan petani sejak tahap perencanaan. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar program yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan.
“Yang paling penting adalah rekayasa sosial, karena perlu ada pendekatan kepada para petani sendiri,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan agroforestri merupakan bagian dari keberlanjutan berbagai kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya, termasuk pembibitan dan pengembangan kelompok masyarakat.
Milangkala ke-59 AMS Kota Bandung, Wali Kota Farhan: Terus Jadi Mitra Strategis Pemerintah
Meski kini bertugas di Komisi II DPR RI, Dadang menyatakan akan tetap membangun komunikasi dengan para pegiat lingkungan serta pihak-pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian hutan. Ia berharap pengembangan agroforestri dapat terus berlanjut dengan melibatkan masyarakat secara aktif.
Melalui pengembangan tanaman produktif berbasis klaster, pengelolaan kawasan sekitar hutan diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. ***