KUNINGAN, Kontroversinews — Persoalan pembangunan Tugu Bangkit “Bola Dunia” di Kabupaten Kuningan yang rencananya akan diubah menjadi Tugu Melesaat “Patung Kuda” kembali menuai sorotan.
Kali ini, Atang, warga Cipari yang sebelumnya viral di media sosial karena mempersoalkan rencana perubahan tugu tersebut, melaporkan seorang berinisial YY (YO) ke Polres Kuningan. Laporan itu berkaitan dengan dugaan penghinaan, pencemaran nama baik, serta dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) melalui media sosial.
Saat ditemui di Polres Kuningan, Sabtu (5/9/2026), Atang, S.E., membenarkan bahwa dirinya telah membuat laporan melalui kuasa hukumnya, Dadan Somantri.
“Benar, saya melalui kuasa hukum saya, Pak Dadan Somantri, telah melaporkan saudara YY (YO) ke Polres Kuningan terkait dugaan penghinaan dan pelanggaran ITE melalui media sosial,” ujar Atang.
Menurut Atang, persoalan tersebut menyangkut harga diri dan nama baik keluarganya. Ia menilai YY telah membuat narasi yang menurutnya menyerang keluarganya, termasuk menuduh anaknya melakukan penggelapan di sebuah perusahaan.
“Ini menyangkut harga diri keluarga saya karena telah terang-terangan menuduh anak saya melakukan penggelapan di suatu perusahaan. Padahal anak saya sedang memperjuangkan haknya dan bukan tersangka ataupun terdakwa,” tegasnya.

Soroti Perubahan Tugu Bangkit “Bola Dunia”
Atang menjelaskan, dirinya sebelumnya menyampaikan kritik di media sosial terkait rencana pembangunan atau revitalisasi Tugu Bangkit “Bola Dunia” yang akan diubah menjadi Tugu Melesaat “Patung Kuda”.
Menurutnya, kritik tersebut merupakan bentuk kekecewaan sebagai masyarakat terhadap kebijakan Pemerintah Kabupaten Kuningan.
“Saya viral terkait pembangunan Tugu Bangkit ‘Bola Dunia’ itu sebagai bentuk kekecewaan saya sebagai masyarakat terhadap Bupati Kuningan yang dianggap akan mengubah Tugu Bola Dunia menjadi Tugu Kuda,” katanya.
Ia menduga perubahan tersebut berpotensi menghilangkan nilai sejarah yang terkandung dalam Tugu Bangkit “Bola Dunia” yang dibangun pada masa pemerintahan bupati sebelumnya.
“Ini diduga ada niatan menghapus sejarah yang telah dibangun oleh bupati terdahulu. Padahal Tugu Bangkit Bola Dunia mengandung makna, filosofi, dan sejarah bagi Kuningan,” ujarnya.
Persoalkan Nomenklatur dan Urgensi Revitalisasi
Atang juga mempertanyakan nomenklatur serta urgensi perubahan bentuk tugu tersebut. Ia menilai terdapat perbedaan antara informasi pada papan proyek dengan hasil pembangunan yang direncanakan.
“Menurut papan proyek, itu revitalisasi Tugu Bangkit Bola Dunia. Kenapa kemudian berubah menjadi Tugu Kuda? Kami mempertanyakan apa nomenklaturnya dan apa urgensinya sampai harus diubah menjadi patung kuda,” katanya.
Atang bahkan menyindir nama Tugu Melesaat yang menurutnya tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
“Ini mah bukannya melesaat, tapi meleseeeet,” ucapnya.
Persoalkan Pengakuan sebagai Saudara Bupati
Selain persoalan dugaan penghinaan dan pelanggaran ITE, Atang juga menyinggung pernyataan YY (YO) di media sosial yang disebut mengaku sebagai adik Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar.
Menurut Atang, pernyataan tersebut perlu diklarifikasi dan dibuktikan kebenarannya.
“Saudara YY (YO) mengaku sebagai adiknya Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar. Itu juga perlu dibuktikan kebenarannya, apakah benar yang bersangkutan merupakan adik Bupati Kuningan,” ujarnya.
Atang menegaskan, dirinya menyerahkan persoalan laporan tersebut kepada aparat penegak hukum.
“Intinya saya telah melaporkan saudara YY (YO) atas dugaan pencemaran nama baik, penghinaan, dan pelanggaran ITE ke Polres Kuningan. Biarkan hukum yang berbicara,” tegasnya.
Siap Menjadi Oposisi
Atang juga menyatakan siap menghadapi konsekuensi atas kritik yang disampaikannya terkait Tugu Bangkit “Bola Dunia”.
“Saya siap menghadapi segala konsekuensi dari apa yang telah saya lakukan terkait viralnya persoalan Tugu Bangkit Bola Dunia. Ini merupakan bentuk kekecewaan saya terhadap kinerja Bupati yang sebelumnya saya dukung,” katanya.
Ia mengaku kecewa apabila pembangunan yang dilakukan pemerintah justru dinilai mengabaikan nilai sejarah yang sudah ada.
“Saya tegaskan sekali lagi, saya siap menjadi oposisi Bupati kalau memang kinerja Bupati selalu bertentangan dengan masyarakat. Jangan sampai demi ego kekuasaan malah melupakan sejarah,” ujarnya.
Atang berharap masyarakat Kuningan dapat terus mengawal persoalan tersebut secara kritis dan berdasarkan fakta.
“Catat, masyarakat Kuningan akan mencatat siapa yang membangun dan siapa yang menghapus sejarah. Jangan sampai Hari Jadi Kuningan ke-528 justru menjadi momentum yang meninggalkan catatan luka sejarah,” pungkasnya. ***