29
Mei 2026 03:17 WIB
SOROT 51 Kali Dilihat

Jalan Raya M. Toha Langganan Banjir, Warga Kesal: Pemerintah Kapan Bertindak?

E. Suparman
E. Suparman Pewarta
Jalan Raya M. Toha Langganan Banjir, Warga Kesal: Pemerintah Kapan Bertindak?
Kab. Bandung, Kontroversinews | Warga dan pengguna jalan di sepanjang Jalan Raya Mohamad Toha kembali mengeluhkan kondisi jalan yang tergenang air hingga menyebabkan arus lalu lintas lumpuh. Genangan yang kerap terjadi setiap kali intensitas hujan tinggi ini memicu kekesalan masyarakat karena mengganggu aktivitas sehari-hari dan berpotensi merusak kendaraan.

Iwan, seorang pengendara motor yang melintas, mengaku lelah dengan kondisi jalan yang kerap menjadi langganan banjir ini.

"Jujur, kami sudah kesal. Setiap hujan deras, jalanan tergenang sampai selutut. Motor sering mogok, lubang jalan juga jadi tidak terlihat. Pemerintah jangan hanya diam, mobilitas warga jadi terhambat," ujarnya dengan nada kecewa, Senin (25/5/2026).

Menanggapi keresahan tersebut, tim media mengunjungi Ketua Pentahelix Kabupaten Bandung wilayah Kecamatan Dayeuhkolot, Tri Rahmanto, di kediamannya, Kamis (28/5/2026). Terkait penanganan banjir berbasis Pentahelix, Tri menyatakan bahwa pihaknya telah menggelar rapat dengan dinas terkait dan terus melakukan koordinasi intensif.

"Yang jadi sorotan kami utamanya adalah saluran drainase di tepi Jalan Raya M. Toha yang banyak sudah rusak. Selain itu, terdapat beberapa pabrik yang menutup permanen saluran tersebut sehingga aliran air akhirnya tumpah ke jalan," jelas Tri.

Ia menambahkan, kendala lainnya adalah banyaknya pabrik dan ruko yang membangun jembatan penghubung (flat decker) dari properti mereka menuju jalan raya dengan dicor tanpa menyertakan bak kontrol.

"Kondisi ini menyulitkan proses pembersihan selokan. Banyak sampah tersendat di bawah coran flat decker tersebut, bahkan menyebabkan penyempitan saluran," ujarnya.

Tri berharap Dinas Bina Marga segera melakukan pembenahan saluran drainase di pinggir Jalan Raya M. Toha.

"Untuk pabrik dan ruko, sebaiknya ditegur atau jembatan tersebut dibongkar, atau minimal dipasang bak kontrol di beberapa titik untuk memudahkan pembersihan saluran," tegasnya.

Ia mengungkapkan bahwa Pentahelix Dayeuhkolot telah melayangkan surat resmi ke Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat untuk meminta pembenahan saluran tersebut.

"Namun, sampai saat ini belum ada tanggapan yang serius," keluhnya.

Tri mengakui bahwa tingginya volume air di jalan raya disebabkan oleh penyempitan saluran, struktur jembatan pabrik yang menyumbat aliran, serta pendangkalan drainase.

"Kami memahami betul kekesalan masyarakat dan ingin secepatnya menyelesaikan persoalan banjir di Jalan Raya M. Toha. Sebagai tindak lanjut, melalui kolaborasi Pentahelix, kami akan segera menurunkan tim untuk berupaya membereskan persoalan ini sebagai bentuk tanggung jawab kami terhadap lingkungan," jelasnya.

Ia juga menyoroti minimnya respons dari pelaku usaha setempat.

"Walaupun seharusnya tanggung jawab beberapa perusahaan yang ada di wilayah, saya selaku Ketua Pentahelix akan terus berupaya dengan kondisi apa adanya demi memenuhi kebutuhan masyarakat untuk normalisasi saluran air di sepanjang jalan tersebut," tambah Tri.

Tri menambahkan, pendekatan kolaboratif lima unsur Pentahelix (pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media) diharapkan menjadi solusi konkret dan permanen untuk membebaskan ruas jalan utama tersebut dari ancaman genangan air.

"Masyarakat diimbau untuk bersabar dan tetap berhati-hati selama proses normalisasi berlangsung," pungkasnya. ***

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!