Warga Cikembang Minta Satpol PP Segel Villa Ilegal

oleh -268 Dilihat
oleh

Kab Bandung | Kontroversinews.- Warga Kampung Cikembang Desa Panundaan Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung mempertanyakan pembangunan komplek villa komersil bernilai miliaran rupiah oleh PT. Adhara yang diduga tak mengantong Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan perizinan lainnya. Warga mendesak pemerintah Desa Panundaan dan Pemerintah Kabupaten Bandung segera menghentikan sementara pembangunan villa tersebut.

Salah seorang warga Kampung Cikembang RW 12, Asep mengatakan saat ini pembangunan komplek villa tersebut sudah mencapai 75 persen dan didirikan diatas lahan seluas kurang lebih 1 hektar. Berdasarkan informasi yang diterimanya, villa tersebut kurang lebih 12 unit dan dijual antara Rp 900 juta hingga Rp 1,5 miliar per unitnya. Sebenarnya, warga di kampungnya tak keberatan dengan pembangunan komplek villa tersebut, namum sayangnya sebagai warga ia merasa tak pernah mendapatkan sosialisasi dan permohonan izin dari warga sekitar.

“Kami heran pembangunan komplek villa seluas itu, kok sama sekali tidak ada sosialisasi dan permohonan izin dari warga. Padahal kan kalau ada apa termasuk dampak negatif dari pembangunan itu yang kena kami warga sekitar. Jika pemerintah desa tak segera mengambil tindakan, jangan salahkan kami warga Kampung Cikembang kalau demo ke kantor Desa Panundaan,”kata Asep di Kampung Cikembang, Minggu (28/10/18).

Asep menjelaskan alasannya hendak melakukan aksi unjuk rasa ke kantor Desa Panundaan, karena menurutnya pemerintahan yang paling bertanggungjawab terhadap wilayahnya adalah pemerintahan desa. Sehingga, tidak mungkin pembangunan bisa berjalan hingga saat ini tanpa ada persetujuan dan perizinan dari pihak desa setempat. Apalagi, keberadaan komplek villa tersebut berada diketinggian, dikhawatirkan jika tidak sesuai peruntukan bisa saja menimbulkan bencana alam. Jika begitu tentu saja warga sekitar yang ada dibawah akan menjadi korbannya.

“Makanya kami minta pertanggunjawaban kepada Desa Panundaan dan pemerintahan diatasnya. Karena kalau ada apa apa yah kami warga sekitar, sehingga yah pembangunan itu harus benar benar mengikuti aturan dong,”ujarnya.

Kepala Desa Panundaan Asep Mamun membantah jika dikatakan membiarkan pembangunan komplek villa tersebut berjalan. Bahkan pihaknya meminta Satpol PP dan dinas perizinan untuk mengentikan sementara pembangunan alias menyegel tempat tersebut. Karena pihak desa pun merasa tak pernah mengeluarkan rekomendasi IMB dan perizinan lainnya. Adapun rekomandasi yang pernah dikeluarkan oleh pihak desa hanya untuk Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) saja.

“Awalnya ada kawan saya yang menjadi pemborong proyek tersebut. Dia datang membawa formulir persetujuan warga untuk rekomendasi Amdal. Kemudian kami verifikasi ke lapangan, ternyata memang tidak semua warga yang mendapatkan sosialisasi dan persetujuan izin, cuma warga saudara dan kerabatnya manta RW saja,”katanya.

Selain itu, lanjut Mamun, di lapangan ia mendapati pembangunan komplek villa tersebut telah berjalan dengan perkiraan telah mencapai 75 persen. Karena merasa punya kewajiban terhadap wilayahnya ia menanyakan masalah IMB kepada pengelola proyek tersebut. Menurut pengakuan pengelola proyek, permohonan perizinan IMB tengah diproses di dinas perizinan di Kabupaten Bandung. Karena merasa tak pernah mengeluarkan rekomandasi untuk IMB, ia pun merasa dibohongi dan dikangkangi oleh proyek tersebut.

“Saya cek semua arsip di kantor dan memang kami tidak pernah mengeluarkan rekomendasi untuk IMB komplel villa itu. Setelah diselidiki mereka mengklaim bahwa rekomendasi Amdal dari desa kami itu sudah satu paket untuk rekomendasi IMB. Kami merasa dikelabui oleh pemilik proyek tersebut,”katanya.

Mamun memahami kekecewaan warga Kampung Cikembang yang merasa tak pernah memberikan persetujuan IMB dan izin lainnya untuk komplek villa tersebut. Tapi dalam masalah ini, pihak Desa Panundaan tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Justru pihak desa pun merasa diperdaya oleh pemilik komplek villa tersebut. (Lily Setiadharma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *