Oktober 17, 2019

Budaya Sadar Risiko Diharapkan Mampu Mengawal Kegiatan Usaha di PT BPR Kerta Raharja

Budaya Sadar Risiko Diharapkan Mampu Mengawal Kegiatan Usaha di PT BPR Kerta Raharja

SOREANG  | Kontroversinews – PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Kerta Raharja terus berupaya meningkatkan kinerja dan memperoleh keuntungan yang sudah ditargetkan sejak awal. Salah satu program yang dilakukan untuk memperkuat internal organisasi dengan cara mengedepankan sistem manajemen risiko.

“Bisnis kita penuh risiko dan tantangan. Kita harus mengedepankan manajemen risiko dengan memperhatikan enam risiko yang ada,” ujar Direktur Utama BPR Kerta Raharja, H. Moch. Soleh Pios SE., didampingi Direktur Kepatuhan, H. Beni Subarsyah SE, M.M, Kamis (3/10) saat ditemui dikantornya.

Keenam risiko tersebut, ia mengungkapkan yaitu risiko kredit, risiko likuiditas, risiko kepatuhan atau hukum, risiko operasional dan risiko strategi serta risiko reputasi. Menurutnya, BPR harus bisa bersaing dengan BPR lainnya termasuk dengan pihak bank umum.

“Sekarang gak bisa dibedakan bank umum dengan BPR, saling berebutan (pasar). Kemudian risiko reputasi harus diperhatikan BPR,” katanya.

Menurutnya, akibat dari risiko-risiko yang disebutkan bermasalah hanya akan menjadikan pemberitaan negatif. Sehingga reputasi PT BPR turun dan kepercayaan mayarakat menjadi berkurang.

Dirinya mengatakan, cara mengenalkan manajemen risiko kepada karyawan dengan cara mengadakan pelatihan manajemen risiko. Menurutnya, perusahaan harus mengenalkan dan membudayakan sadar risiko kepada karyawan.

“Budaya risiko harus dipahami oleh rekan rekan seluruh lapisan. Mengenal dulu, baru mitigasi seperti itu. Jadwal pelatihan dibuat SDM, kita juga diwajibkan mencadangkan biaya pendidikan,” ungkapnya.

Direktur Utama PT BPR menambahkan, pemahaman terhadap tata kelola PT BPR merupakan instrumen penting yang harus diketahui karyawan. Menurutnya terdapat 11 faktor tata kelola yang harus dilakukan serta fokus mencapai target pada akhir tahun.

“Ada waktu efektif 2 bulan lagi mencapai target,” katanya. Ia pun menyebutkan jika pengawasan yang dilakukan PT BPR sudah berbasis teknologi informasi. Selain itu, direksi dan komisaris sudah menjalankan fungsinya masing-masing dengan baik.

“Aset PT BPR sudah mencapai Rp 300 miliar, masih banyak potensi yang harus digali dan dikomitmenkan, disesuaikan skala ekonomi BPR,” katanya. (Lily Setiadarma)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *