Agustus 25, 2019

BKP Kementan Melepas Ekspor Produk Pertanian di Wilayah Jawa Barat

BKP Kementan Melepas Ekspor Produk Pertanian di Wilayah Jawa Barat

RANCAEKEK | Kontroversinews – Badan Karantina Pertanian (BKP), Kementerian Pertanian (Kementan) melepas ekspor produk pertanian di wilayah Jawa Barat, Minggu (30/6) di Rancaekek, Kabupaten Bandung. Komoditas yang dikirim yaitu jahe sebanyak 54 ton ke Bangladesh, kopi sebanyak 19.2 ton ke Korea Selatan dan makanan kering 210 ton dengan tujuan Filipina.

Nilai ekspor produk jahe sebesar Rp 680 juta, kopi sebesar Rp 1.64 miliar dan produk makanan kering sebesar Rp 6.6 triliun. Sedangkan nilai ekspor komoditas pertanian Bandung pada 2018 sebesar Rp 1.6 triliun dan pertengahan 2019 saat ini mencapai Rp 3.3 triliun.

Kepala Badan Karantina Pertanian (BKP), Ali Jamil mengatakan jahe dan kopi yang ekspor ke Bangladesh dan Korea Selatan merupakan produk petani yang berasal diantaranta dari Kabupaten Bandung, Ciamis, Garut, Tasikmalaya dan Sumedang. Diharapkan, frekuensi pengiriman produk bisa terus naik dan bertambah.

“Kalau bisa jual jahe (juga) dalam bentuk bumbu atau jadi. Termasuk untuk frekuensi pengiriman dan buka pasar baru,” ujarnya kepada wartawan saat pelepasan produk ekspor di Rancaekek, Kabupaten Bandung, Ahad (30/6).

Dirinya mengapresiasi ekspor yang baru berjalan setengah tahun namun sudah bisa melebihi target dari tahun 2018 lalu. Pihaknya mengapresiasi kinerja yang dilakukan oleh jajaran Badan Karantina Pertanian (BKP). “Nilai ekspor kita tiap tahun terus meningkat,” katanya.

Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bandung, Iyus Hidayat mengatakan meski bukan komoditas pertanian. Namun, jaminan terhadap kesehatan dan keamanan harus dilakukan pada ekspor makanan kering.

Dirinya mengungkapkan pihaknya terus berupaya agar komoditas pertanian yang diekspor bisa dikawal dengan baik. Serta mewujudkan Indonesia bisa menjadi lumbung pangan dunia.

Salah seorang eksportir jahe, Toriq Mahmud mengatakan tiap pekan mengekspor jahe dan dalam satu bulan mengekspor empat kali. Menurutnya, pihaknya masih kekurangan jahe untuk dikirim ke Bangladesh.

“Sebulan itu saya bisa ngirim 150 ton perbulan. Kalau digabungkan semua eksportir jahe bisa lebih dari 2000 ton sebulan,” ungkapnya. (Lily Setiadarma )

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *