Juli 17, 2018

Wisata ke Paropo, Surga Kecil di Danau Toba

Wisata ke Paropo, Surga Kecil di Danau Toba

Kontroversinews.com- Suara alarm dari telepon genggam menunjukkan pukul 3 pagi. Saya pun bergegas untuk berangkat menuju Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Banten, menumpangi pesawat yang akan terbang pukul 6 pagi mengantar saya ke Bandar Udara Internasional Kualanamu di Medan, Sumateran Utara, yang pada akhir pekan di bulan Maret kemarin.

Di sana saya dan teman-teman hendak ke Danau Toba yang merupakan salah satu destinasi wisata populer di Tanah Air.

Danau yang terbentuk akibat letusan Gunung Toba itu menyimpan sejuta panorama cantik nan memesona. Legenda terciptanya pun sudah mendunia, sehingga saya semakin penasaran untuk datang.

Menggapai Danau Toba bukan hal sulit. Perjalanan udara dapat dengan mudah ditempuh karena di sana terdapat Pelabuhan Udara Silangit.

Namun saya bersama rombongan memilih mendarat di Kualanamu. Alasannya agar bisa “mengangkangi” sepeda motor hingga Danau Toba.

Penerbangan pagi jadi pilihan karena diharapkan sampai di lokasi tidak larut malam.

Perjalanan udara ditempuh selama sekitar dua jam. Dari bandara, saya naik kereta api Railink menuju Medan. Saat itu cuaca cerah berawan.

Perjalanan seru menggunakan sepeda motor dimulai dari Medan-Berastagi-Paropo-Silalahi dengan jarak tempuh sekitar 140 kilometer.

Jalanan yang dilewati cenderung lengang dan motor mampu dipacu dengan kecepatan sedang sekitar 60-80 kilometer per jam untuk melibas berbagai kondisi.

Yang membuat perjalanan kian menarik adalah mengendarai skuter yang umumnya dikendarai untuk di jalan perkotaan. Dengan skuter perjalanan cenderung lebih santai sehingga saya dan teman-teman bisa lebih menikmati pemandangan sekeliling jalanan.

Wisata ke Paropo, Surga Kecil di Danau TobaPerjalanan seru menggunakan sepeda motor dimulai dari Medan-Berastagi-Paropo-Silalahi dengan jarak tempuh sekitar 140 kilometer. (Foto: Dok. Istimewa)

Selama perjalanan menuju Berastagi, sesekali terasa hembusan angin cukup kencang dari kiri dan kanan. Efeknya bagi pengendara motor cukup terdorong ke sisi kanan dan sebaliknya.

Bagi yang berencana ke sana menggunakan roda dua, disarankan untuk menyiapkan perlengkapan berkendara hingga jas hujan mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu.

Keindahan alam dan suasana di sekitar masih sangat alami dan tak bisa dipungkiri seperti mengajak saya untuk merasakan ketenangannya. Rasa capai, pegal dan bergelut dengan waktu seakan terobati oleh hadiah Ilahi yang begitu indah.

Setelah menempuh perjalanan hampir 3,5 jam, kami memutuskan singgah di Berastagi, sebuah kota kecil yang menghubungkan antara Medan dan Danau Toba.

Setelah selesai berisitirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Matahari semakin meninggalkan sore, namun saya masih harus menempuh sekitar tiga jam perjalanan ke lokasi tujuan.

Sensasi “menggoyang” roda dua semakin terbatas saat bergerak menuju “surga” yang berada di balik perbukitan.

Di situ saya agak kehilangan aura keindahan Danau Toba, yang ada hanya rasa dingin menyengat tubuh ini dan dihantui gelapnya malam.

Perjalanan dari Berastagi menuju Silalahi sangat menantang adrenalin. Di sepanjang jalan tanpa penerangan memungkinkan pergerakan hanya dibantu lampu depan sepeda motor seadanya.

Selain gelapnya jalan, rombongan juga dihadapi situasi jalan yang jalan licin, berkelok-kelok, menanjak dan menurun. Hal itu menuntut konsentrasi bagi pengendara motor. Beruntung kondisi aspal mulus dan hanya beberapa berlubang dan rusak.

Pukul 9 malam kami akhirnya sampai di Silalahi dengan keindahan alamnya tertutup malam setelah menempuh jarak total sekitar 150 kilometer, dari Medan-Berastagi-Paropo-Silalahi.

Kami bermalam di penginapan sederhana untuk beristirahat demi menikmati panaroma Danau Toba dari sisi Toba Samosir esok paginya.

Hari kedua, sunrise Danau Toba mulai menampakkan dirinya sekitar pukul 5 pagi. Rasa letih akibat menempuh perjalanan jarak jauh yang cukup menantang akhirnya terjawab setelah menikmati sinar matahari pagi Danau Toba.

Di depan Debang Resort–nama hotel tempat saya menginap, terlihat Pulau Samosir.

Untuk sampai ke sana turis harus menyeberang menggunakan perahu yang dioperasikan oleh warga setempat. Namun kami lebih memilih ke Air Terjun Sipiso-Piso di Desa Tongging yang lokasinya tak jauh dari Silalahi, sekitar 30 menit perjalanan.

Perjalanan menuju air terjun juga cukup menantang adrenalin, sebab kami harus melewati jalan berbatu dengan tanjakan dan turunan yang tajam.

Di sana pemandangan juga terlihat. Rasanya ini menjadi “surga” kedua setelah daerah Silalahi.

Dari kejauhan kami masih bisa menyaksikan hamparan luas Danau Toba, meski daya tarik Air Terjun Sipiso-piso dengan ketinggian sekitar 120 meter tak kalah menarik.

Dikutip dari: cnnindonesia.com

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *