Mei 27, 2019

PTPN VIII Alokasikan 30 hektar Lahan Konservasi Hulu Sungai Citarum

PTPN VIII Alokasikan 30 hektar Lahan Konservasi Hulu Sungai Citarum
Photo Credit To Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan didamping Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat dialog dengan Ditektur komersil PTPN VIII Ryanto Wisnuardhy dan menyempatkan mencicipi minum Kopi di Stand PTPN VIII di Balerame komplek Gedung Sabilulungan, Selasa (19/2/2019)

SOREANG | Kontroversinews.- PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII mengalokasikan sekitar 30 hektar lahan untuk konservasi kawasan hulu Sungai Citarum. Lahan tersebut saat ini digunakan untuk pembibitan tanaman kopi yang digunakan untuk reboisasi hulu Citarum.

Direktur komersil PTPN VIII Ryanto Wisnuardhy melalui Kepala Divisi Hukum dan Umum pada PTPN VIII Naning Diah Tresnawati mengatakan, lahan pembibitan tersebut berlokasi di Kebun Kertamanah, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. “Luas tanam kopinya sendiri sudah mencapai 538,59 hektar,” ujarnya di sela-sela kegiatan Citarum Expo di Bale Rame, Kawasan Budaya Sabilulungan, Soreang, Selasa (19/2/2019).

Jajaran manajmen PTPN saat di stan ekpo Citarum harum di Balerame Komplek Gedung Sabilulungan, Selasa (19/2/2019)

Naning menambahkan, PTPN VIII pun melakukan kegiatan reboisasi lain berupa penanaman pohon kayu. Luas tanam kayu itu sudah mencapai 20 hektar.

Dari kegiatan yang dilaksanakan sejauh ini, penanaman kopi juga sudah memberikan hasil panen bagi PTPN sendiri. Produk kopi tersebut pun dipamerkan di tenan PTPN VIII di kegiatan Citarum Expo.

Meskipun demikian, Naning menegaskan bahwa target utama PTPN VIII adalah mengurangi lahan kritis di kawasan huku Citarum. Tidak terkecuali di lahan PTPN VIII yang mencapai 1700 hektar.

“Salah satu penyebab banjir adalah lahan kritis di hulu Citarum. Jadi kami ingin setidaknya lahan kritis yang ada di wilayah kerja kami hijau kembali,” tutur Naning.

Naning tak menampik jika permasalahan lahan kritis PTPN VIII dipicu oleh alih fungsi dari perkebunan menjadi pertanian. Solusinya adalah kembali menanami lahan tersebut dengan tanaman keras yang bisa menyerap air.

Penanaman kopi, kata Naning, dilakukan bersama warga. Dengan begitu mereka yang selama ini hidup dari bertani sayuran, tetap bisa hidup dari bertanam kopi. (Lily Setia darma)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *