Agustus 20, 2019

Pengendara Bus dan Warga Keluhkan Tikungan Tapal Kuda Jalan Raya Ciwidey-Rancabali 

Pengendara Bus dan Warga Keluhkan Tikungan Tapal Kuda Jalan Raya Ciwidey-Rancabali 

RANCABALI | Kontroversinews.- Para pengguna jalan di Jalan Raya Ciwidey-Rancabali Kabupaten Bandung, mengeluhkan sempit dan berkelok keloknya jalan tersebut. Padahal, Jalan Raya Ciwidey-Rancabali ini tergolong padat arus lalu lintasnya setiap akhir pekan dan musim libur panjang tiba. Objek wisata Gelamping Lakeside Rancabali dan Pinisi Resto Rancabali. Tempatnya cukup unik yang menjadi primadona wisatawan lokal dan mancanagara selalu menjadi tujuan.

Berdasarkan pantauan lapangan, jalur Jalan Raya Ciwidey-Rancabali yang masuk ke wilayah Desa Patengan Kecamatan Rancabali berkelok kelok dengan lebar badan jalan hanya sekitar tujuh meter. Otomatis ketika kendaraan besar seperti bus dan truk gandengan melintas, kendaraan yang ada di depannya harus berhenti. Jalan berkelok yang berada di kawasan perkebunan teh PTPN VIII Rancabali tersebut dinamai tikungan Tapal Kuda oleh warga sekitar. Jumlah tikungan Tapal Kuda ini ada tiga dengan jarak yang tak terlalu jauh. Jika ada kendaraan besar melewati jalan itu disaat arus lalu lintas padat, otomatis kemacetan panjang tak bisa dihindarkan.

“Tikungannya hampir menyerupai huruf U dan S. Badan jalannya juga kecil, makanya kalau ada bus atau truk besar bikin macet dari kedua arah. Soalnya kendaraan besar harus pelan pelan beloknya, kalau dipaksakan sekaligus bisa terbalik,”kata Ade Isnaeni (45) salah seorang warga Desa Patengan, Jumat (7/12/18).

Ade mengatakan, jalan tersebut sangat vital keberadaannya, karena selain jalur wisata menuju Objek wisata Gelamping lakeside , jalan itu juga menghubungkan Bandung dengan Kabupaten Cianjur bagian Selatan. Maka tak heran, meskipun jalannya kecil dan berkelok serta banyak tanjakan dan turunan dengan pemandangan dikiri kanan perkebunan teh dan tebing, tetap saja ramai dilalui pengguna jalan.

“Tapi memang kebanyakan pengguna jalan kesini yang bertujuam wisata di daerah Ciwidey dan Rancabali. Kan tiga tikungn Tapal Kud itu juga harus dilalui pengguna jalan yang mau wisata ke Situ Patengan dan objek wisata lainya, makanya kalau musim libur, macetnya luar biasa,”ujar Ade.

Kemacetan arus lalu lintas ini, lanjut Ade, sebenarnya sangat merugikan. Karena berbagai aktivitas warga menjadi terganggu. Apalagi bagi warga yang menggantungkan hidupnya pad usaha jasa wisata dikawasan Ciwidey dan Rancabali. Sumbatan arus lalu lintas, membuat kunjungan wisatawan menjadi terlambat datang. 


“Kalau macet parah, itu wisatawan bisa seharian diam di dalam kendaraannya. Nah begitu sampai ke lokasi wisata sudah sore dan sudah banyak yang tutup.  Belum lagi aktivitas warga juga terganggu, seperti yang mau bekerja, sekolah atau bahkan hendak melahirkan dan kecelakaan harus ke rumah sakit jadi kejebak macet,”kata Ade. 

Ade berharap, Pemerintah Pusat bisa segera melakukan pelebaran dan perbaikan disepanjang jalur tersebut. Karena memang kawasan Ciwidey dan Rancabali ini, ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Jawa Barat. Hal ini tentunya harus ditunjang dengan penyediaan infrastruktur jalan yang baik dan memadai.

“Harapan kami jalannya diperlebar dong, harusnya mah mulai dari Soreang sampai Rancabali. Karena berbagai objek wisata tujuan para turis juga adanya di Rancabali. Kalau jalannya cuma segini ajah mah yah tetap saja repot,”ujarnya.

Hal senada dikatakan oleh salah seorang pengemudi bus pariwisata, Asep Jana (47). Menurut Asep, perlananan menuju objek wisata Bandung Selatan saat ini memang relatif lebih cepat setelah beroperasinya Jalan Tol Soreang-Pasirkoja(Soroja). Namun setelah masuk jalur Jalan Raya Soreang-Ciwidey-Rancali, menjadi tantangan tersendiri badi para pengemudi seperti dirinya. Betapa tidak, jalan kecil berkelok kelok dengan tanjangan dan turunan curam harus dilalui dengn penuh kehati hatian.

“Ini jalur yang penuh tantangan dan harus selalu hati hati. Jalannya juga selalu padat kalau musim liburan, kalau kita lengah bisa membahayakan nyawa orang lain,” ungkapnya. (Lily Setiadharma)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *